Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Membudayakan Literasi Anak

Note : Click The Picture to Zoom


Prolog
Saya pernah menjumpai seorang teman saya yang bercerita bahwa ia telah dimarahi orang tuanya. Kemudian saya tanya untuk menggodanya, “Kamu nakal paling ?”
Dia menjawab dengan bersungut-sungut, “Saya pikir saya tidak melakukan kesalahan. Saya sudah menabung dari uang saku untuk kemudian membeli buku yang begitu saya inginkan dari dulu. Tetapi ketika ada diskon 10 buku hanya dengan 100 ribu, saya berpikir itu lumayan bagus untuk koleksi baca saya. Memang 10 buku itu dirandom dan tidak bisa memilih sendiri, tapi ada salah satu buku yang menarik untuk dibaca, novel tingkat dunia, kamu tahu, ‘Around the World in 80 days’ ?” Saya hanya menimpali dengan geleng kepala, karena saya memang belum membacanya. Kemudian teman saya bercerita seluk beluk cerita dalam buku itu hingga melupakan curhatannya. Memang ceritanya sangat menarik, tetapi Saya hanya berpikir, kenapa orang tuanya memarahinya, padahal itu uang hasil dia sendiri menabung, pun orang tuanya juga orang yang berkecukupan. Menurut saya dengan ia membeli sesuatu dari hasilnya sendiri menabungi, apalagi sesuatu itu adalah buku, merupakan suatu hal yang patut mendapat pujian. Lantas, kenapa orang tuanya malah membaku hantam kata-kata yang tidak menyenangkan ?
Saya tanya dia di sela ceritanya, “Tunggu ! Kenapa orang tuamu memarahimu ?”
“Mereka bilang buat apa beli buku seperti itu, gak ada faedahnya. Mending buat hal yang lebih ada manfaatnya. Buku seperti itu mau buat apa ?” Dan masih panjang dia bercerita bagaimana orang tuanya marah-marah tentang tidak bermanfaatnya dia membeli buku-buku itu.
~ o0o ~
Pendapat saya sendiri, 100 ribu untuk 10 buku termasuk harga yang murah dan keputusannya untuk membeli buku dari uang hasil dia menabung adalah keputusan yang baik, mengingat keluarganya juga bukan keluarga yang kekurangan. Mana ada juga buku novel dijual sepuluh ribu untuk satu buku. Ada pun jarang. Apalagi ia mendapatkan buku novel tingkat internasional yang sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa di dunia. 
Cerita tersebut salah satu fakta bahwa kebanyakan orang tua di Indonesia masih belum bisa menghargai buku, apalagi jika buku itu bukan buku tentang pelajaran. Kebanyakan orang tua menuntut anak-anak rajin belajar, rajin membaca, melarang ini, melarang itu, sehingga tidak jarang dijumpai anak-anak maupun remaja merasa jengah. Kebanyakan mereka dilarang membaca novel, buku cerita fiksi, prosa dan sejenisnya. Mereka hanya diperbolehkan membaca buku tentang pelajaran, apalagi status mereka adalah pelajar. Eksistensinya seorang pelajar memang belajar. Namun belajar itu sesungguhnya tidak hanya diperoleh dari buku pelajaran. Dengan membaca beberapa buku non pelajaran, kosakata mereka dapat bertambah, nalar mereka terasah, ketertarikan akan membaca semakin terbuka. Namun orang tua membuatnya sirna dengan memaksa anak-anak belajar dan hanya membaca buku pelajaran dan materi sekolah.
Tahukah anda ? Pembaca Budiman, saat ini marak muncul gangguan syaraf pada anak-anak, remaja, bahkan balita dari akibat kecanduan bermain dengan ponsel. Tangan mereka bergerak sendiri, tangan gemetar, pandangan mata tampak kosong, dan sebagainya. Saya pernah menyaksikan langsung kejadian tersebut menimpa seorang remaja yang saat itu dibawa oleh ayahnya karena kewalahan dengan apa yang menimpa putranya. Ketika ahli medis di UGD menanyai remaja itu, dia hanya menggeliat, tangannya kaku, dan tidak merespon apa yang kami katakan ketika itu. Dalam hati saya hanya satu yang terbesit, “Kejadian seperti ini, kenapa bisa sampai terjadi ? Siapakah yang pantas disalahkan ?”. Saya hanya iba melihat situasi seperti itu. Kejadian yang sama juga sering saya jumpai dalam dunia maya, info-info yang mengungkapkan fakta anak-anak, bahkan bapak-bapak yang kecanduan game online. Jika terus terjadi seperti demikian itu, maka cukupkah aman kita amanahkan masa depan bangsa pada mereka ?
Mengapa hal itu dapat terjadi ?
Bisa disebabkan salah satunya karena rasa kesal, jengkel, dan jengah terhadap materi pelajaran. Bahan bacaan itu dirasa membosankan. Apabila masih tahap awal mereka menggunakan smartphone, mereka masih dapat membagi waktu. Mereka akan meluapkan kekesalan itu dengan bermain ponsel. Melihat anak-anak berkelakuan seperti itu, orang tua memarahi mereka. Orang tua menyuruh belajar dan bahkan menyita ponsel mereka. Ada kalanya anak yang patuh akan mengikuti perintah orang tuanya. Nah, jika anak yang bandel, bagaimana ? Salah siapa pula jika mereka menjadi adiksi dengan ponsel dan game online ? Inilah yang seharusnya dihindari orang tua masa kini. Tidak baik melarang apa yang sudah menjadi  baghal lumrahi mereka, selama anak-anak dapat membedakan baik dan buruknya. Sama halnya dengan buku, dari buku-buku cerita, novel, prosa dan karangan itulah minat membaca mereka tumbuh. Maka tidak ada alasan  melarang mereka membaca dan membeli buku selama ekonomi finansial keluarga masih dapat tercukupi.
Fondasi membaca sudah seharusnya ditanamankan sejak anak-anak masih usia dini. Tidak melarang mereka dengan buku yang dibacanya meskipun itu buku cerita, asalkan buku itu bukan majalah dewasa, ya sobat literat. Memberikan ruang kebebasan untuk anak-anak bermain juga diperlukan, asalkan masih memerhatikan waktu kapan waktunya belajar, kapan waktunya bercengkeramah dengan kawan.
Salah satu cara efektif untuk menanamkan kebiasaaan positif pada anak adalah dengan kebiasaan membaca sejak dini atau dikenal budaya literasi dini. Menerapkan pengetahuan dari membaca akan sangat bermanfaat untuk masa depan anak-anak. Di sisi lain, fondasi yang kuat akan melahirkan kebiasaan yang kokoh. Anak-anak akan memiliki minat membaca melebihi bermain game online atau sekedar bermain dengan ponsel. Mungkin dalam hal ini bisa dikatakan pengalihan perhatian ketika anak-anak beranjak remaja.
Seandainya budaya literasi ditanamkan sebagai akar yang kokoh dalam pendidikan anak sejak dini sebelum akhirnya mereka mengenal gadget dan online game, maka kecenderungan mereka terhadap kedua hal tersebut akan tereduksi. Fondasi yang kokoh, budaya literasi yang benar-benar mengakar kuat dalam keseharian buah hati kita akan memberikan sugesti berkepanjangan bahwasanya membaca itu menyenangkan. Lantas, pertanyaannya, bagaimana menanamkan fondasi budaya literasi yang tepat untuk anak-anak kita sejak usia dini ? Nah, disinilah peran serta dari semua pakar pendidik sangat diperlukan.
Literasi dini sebenarnya bukanlah menyuruh anak-anak membaca sejak dini, melainkan bagaimana membangun fondasi yang kuat pada anak terhadap minat baca sehingga setelah memasuki tahap pembelajaran membaca dan menulis, mereka lebih siap. Hambatan yang sering dijumpai adalah instruksi formal yang menyuruh anak-anak membaca, sedangkan dalam diri mereka belum terbangun minat membaca. Mengingat pula banyaknya buku yang tidak menarik minat baca mereka seperti, buku yang terlalu tebal, tidak bergambar, dan tulisannya kecil-kecil, maka anak akan cenderung bosan. Ketika anak membaca komik atau cerita bergambar, orang tua atau guru akan memarahi mereka karena berpendapat bahwa itu hanya akan membuat mereka menjadi bodoh dan malas membaca. Padahal, dari membaca buku bergambar itu dapat dijadikan pintu gerbang anak dalam mengenalkan dunia literasi. Hanya saja, pola pengenalannya yang dibuat variatif.
Selain itu, orang tua dan guru turut menyumbang minat baca yang rendah terhadap anak-anak. Misalnya di rumah mereka tidak tersedia bahan bacaan untuk anak-anak. Bacaan anak hanya disuplai dari buku yang didapatkan di sekolah atau perpustakaan. Itu pun apabila rumah mereka dekat dengan perpustakaan, lantas bagaimana dengan rumah-rumah keluarga yang jauh dari wilayah literasi, bahkan berada di pelosok yang jauh dari berbagai ruang baca publik.




Berdasarkan hasil penelitian lima tahunan yang dilakukan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) tahun 2006, minat baca siswa sekolah dasar di Indonesia menempati posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) dan data UNESCO tahun 2012, jumlah warga masyarakat di Indonesia yang memiliki minat baca hanya 1:1000, artinya dalam 1000 orang hanya ada satu orang yang memiliki minat membaca sedangkan 999 kurang memiliki minat membaca.



Jangan dibandingkan dengan negara seperti Amerika Serikat yang mewajibkan setiap warga negaranya membaca minimal tujuh judul buku dalam setahun, demikian pula negara-negara Eropa, Jepang, Singapura, bahkan Malaysia. Negara kita sendiri masih tertinggal jauh. Data CMS mengungkapkan bahwa judul buku rata-rata yang dibaca setahun di Indonesia 0 buku yang berada di bawah Thailand dan Brunei Darussalam. Sungguh fakta ironis!
Oleh karenanya, membudayakan literasi sejak anak usia dini sangat penting diterapkan. Hasil survei nasional Inggris menyatakan bahwa 82% responden setuju apabila mengembangkan minat baca anak-anak berasal dari peran orang tua (Gleed, 2013: 32). Alasan itulah, mengapa kebiasaan membaca hendaknya dikembangkan sejak usia dini disertai dukungan dari orang tua, masyarakat khususnya guru didampingi motivasi dan dorongan dari individu itu sendiri untuk membaca.
Indikator Perkembangan Literasi Dini pada Anak
Perlu diingat kembali, literasi dini bukanlah mengajarkan anak membaca, tetapi bagaimana menanamkan fondasi kokoh untuk mencintai kebiasaan membaca, sehingga anak akan lebih siap ketika mereka memasuki usia belajar membaca. Dalam perkembangan literasi dini anak, ada beberapa indikator yang mengukurnya, yaitu Print motivation, phonological awareness, vocabulary, narrative skill, print awareness, dan letter knowledge.



Print motivation adalah bagaimana orang tua dan masyarakat khususnya guru dan pakar pendidik lain mampu menumbuhkan sikap dan minat untuk membaca. Peck menjelaskan bahwa indikator ini merupakan keterlibatan orang tua dan guru dalam menarik minat baca anak-anak (Peck, 2009: 83). Orang tua dan guru mengikutsertakan anak-anak dalam membaca, berpura-pura membaca untuk menarik rasa penasaran anak, dan meluangkan waktu untuk membacakan buku. Print motivation merupakan berproses mencintai membaca, menikmati buku, berpura-pura menulis, atau pun menjadikan perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan, perjalanan menuju perpustakaan juga menjadi tidak membosankan.
Phonological awareness merupakan kemampuan anak dalam mendengarkan dan memainkan bunyi dari kata sederhana. Misalnya membacakan sajak, menyanyikan lagu, dan permainan kata yang bisa didapat dari buku dongeng, buku cerita, dan sebagainya.
Vocabulary yakni berhubungan dengan kosakata dalam kemampuan anak. Membaca beberapa buku akan menambah kotakata anak, misalnya buku tentang binatang, tanaman, benda langit, dan lain-lain. Mereka akan mengetahuinya sebelum memasuki sekolah adalah lebih baik daripada tidak mengetahuinya karena kemungkinan akan menyulitkan anak dalam belajar. Dan kemampuan ini berhubungan dengan narrative skill yaitu kemampuan menyampaikan kembali. Dari apa yang telah dibaca, diharapkan anak mampu untuk menyampaikan dengan membuat kalimat mereka sendiri, tidak menyalin atau bahkan mneghafalnya. Hal ini akan efektif dalam melatih kemampuan nalar anak dan informasi dari buku yang dibacanya akan mudah dipahami oleh anak.
Print awareness yakni kemampuan anak untuk lebih teliti dalam memerhatikan kosakata, menandai kata yang belum dia kenal. Orang tua atau guru dapat memberikan sebuah buku dengan huruf abjad bertitik-titik sehingga anak dapat mengikuti bentuk tulisan tersebut. Letter Knowledge merupakan kemampuan anak dalam membedakan setiap huruf. Huruf-huruf terkadang terlihat sama, namun membedakannya dengan cara mengucapkannya.

Mengenalkan bacaan pada anak-anak ketika masa golden age merupakan salah satu metode yang tepat dilakukan. Hanya saja tekniknya yang perlu dimodifikasi. Bukan hanya menyuruh anak-anak membaca, melainkan pula orang tua harus terlibat serta. Misal ketika anak akan tidur, orang tua secara rutin membaca dongeng yang sesuai dengan usia anak-anak. Ketika beranjak remaja, kebiasaan itu dapat diaplikasikan dengan membuat sebuah rangkuman dari buku yang telah mereka baca juga kesan dan pesannya dari buku yang telah dibaca.

Peran Masyarakat Terutama Guru dalam Membudayakan Literasi
Peran masyarakat terutama guru yang selalu mendampingi pendidikan anak-anak di sekolah juga memiliki peran yang cukup penting. Ketika anak-anak memasuki usia dini, guru diharapkan membacakan beberapa cerita yang mampu menarik minat anak-anak untuk membacanya. Dalam hal ini, penyampaian pesan tanpa doktrinisasi juga perlu di laksanakan sehingga secara alami akan tertanam dalam pribadi anak-anak. Membaca buku bacaan favorit secara berulang-ulang juga mampu membantu dalam penguatan bahasa dalam teks yang ada dalam bacaan. Guru juga dapat memberikan daftar rekomendasi buku bacaan anak-anak untuk dibaca di rumah atau dapat pula dari perpustakaan yang disampaikan pada orang tua.



Fasilitas yang tersedia di sekolah, hendaknya guru dapat memaksimalkan keefektifannya untuk perkembangan literasi anak, misalnya buku. Mereka tidak diharuskan membeli buku karena sudah tersedia di sekolah. Jika tidak mencukupi, maka hanya diperlukan untuk fotokopi bagian bacaan yang diperlukan. Untuk materi pembelajaran, hendaknya guru dapat merangkumnya menjadi sebuah konsep yang mudah dimengerti anak sehingga mereka dapat mencatat dalam buku mereka sesuatu apa yang mereka pahami dengan bahasa mereka sendiri, bukan dari hasil menyalin seperti yang sudah lumrah dilakukan di berbagai instansi pendidikan saat ini.
Apabila suatu sekolah telah mengizinkan gadget dan laptop dalam pembelajaran mereka, maka harus diupayakan mengontrol penggunaannya. Anak diajarkan untuk bagaimana menggunakannya dengan efisien, khususnya mencari bahan bacaan dan referensi dari dunia internet sehingga dapat meminimalisir anak terjerumus efek negatif dunia internet.
Di samping pengaruh besar seorang guru, fakta ironis saat ini yang tidak dapat dipungkiri yaitu orang tua hanya dapat memberikan beberapa pengaruh kecil dalam perkembangan literasi anak. Peran signifikan lebih ditegaskan guru di sekolah, khususnya usia dini dan taman kanak-kanak dimasa mereka sudah diajarkan membaca. Orang tua bergeser dari peran utama menjadi peran pendukung. Ironi ini seharusnya tidak boleh terjadi. Orang tua harus tetap menjadi tiang utama pendidikan anak-anak. Tidak hanya mengantar dan menjemput anak di sekolah, mengajarkan mereka PR yang didapat dari sekolah, tetapi juga menanamkan fondasi cinta membaca.

Untuk mendukung keberhasilan budaya literasi anak, peran orang tua sangat penting. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua sebagai bentuk peran serta dalam menyusekseskan literasi dini anak, antara lain sebagai berikut:

Kecanggihan teknologi saat ini mulai dari smartphone, tablet, netbook bisa dijadikan ladang potensial bagi anak-anak untuk mengenalkan tentang berbagai sumber literasi, seperti buku cetak, ­ebook, epaper, portal berita, dan sebagainya. Alat canggih tersebut bisa menjadi ancaman apabila anak-anak menjadi berlebihan hingga ketergantungan dengan media sosial dan internet. Oleh karena itu, orang tua harus dapat memenuhi peran ganda sebagai benteng juga filter bagi anak-anak mereka.
Lainnya itu, orang tua harus dapat menjadikan rumah sebagai tempat baca yang nyaman bagi anak-anak. Orang tua dapat menyediakan ruang baca yang menyenangkan dengan koleksi buku yang akan disukai oleh anak-anak dan meluangkan waktu untuk membaca bersama anak-anak. Membaca dongeng untuk anak-anak sebelum tidur merupakan salah satu cara yang efektif. Hal ini terbukti daoat menanamkan budaya literasi anak sedini mungkin, sehingga fondasi mereka akan kokoh terhadap minat membaca bahkan cinta membaca di kemudian hari dan lebih siap ketika waktunya belajar membaca.
Orang tua juga harus berusaha menjadi panutan bagi anak. Ketika orang tua ingin anak-anak gemar membaca, maka orang tua harus memberikan dahulu panutan dan contoh bagi mereka. Jika orang tua membiasakan gemar membaca, maka anak-anak akan termotivasi untuk ikut membaca. 

Ketika anak bertanya mengenai suatu hal pada orang tua, hendaknya orang tua bisa menjawabnya, bahkan dilengkapi dengan beberapa kalimat kutipan dalam suatu buku. Dengan demikian, akan muncul rasa penasaran dalam benak anak-anak sehingga mendorong mereka untuk membaca buku yang dimaksudkan oleh orang tuanya. Dari buku-buku yang ada, orang tua juga dapat mengajari anak-anak bagaimana merawat buku, menghargai, dan bertanggung jawab atas kepemilikannya, misal buku yang didapat dengan pinjam dari perpustakaan. Orang tua juga menjadi seorang fasilitator dengan mengajak anak-anak pergi ke toko buku dan membelikan buku yang menggugah minat anak.
Selain itu, orang tua juga tidak disarankan terlalu sering menonton TV, mengingat orang tua adalah teladan bagi anak-anak dan meniru setiap apa yang dilakukan. Ketika menonton TV, orang tua juga hendaknya ikut mengawasi dalam setiap tontonan anak. Dapat pula membuat jam khusus menonton tayangan-tayangan TV sehingga tontonan mereka lebih terkontrol. Di setiap selesai maupun dalam menonton TV, orang tua dapat memberikan evaluasi mengenai nilai yang ada dalam program yang mereka tonton. Orang tua juga hendaknya mengenalkan channel TV yang dapat menambah wawasan anak-anak yang sifatnya mengedukasi meskipun saat ini tayangan seperti ini masih jarang dijumpai dan terkadang sulit menarik minat anak. Untuk itulah, penanaman fondasi literasi sejak dini memiliki pengaruh besar dalam hal tersebut dan memang harus ditanamkan dalam pribadi anak.

Dalam pengembangan literasi, peran orang tua, guru dan masyarakat memang sangat diperlukan. Hanya saja, pemerintah juga ikut andil besar dalam hal ini, utamanya dalam penyediaan sarana perpustakaan publik yang masih terbatas di kota-kota besar. Untuk daerah pelosok masih sangat jarang dijumpai, bahkan tidak ada. Padahal, keperluan baca daerah pelosok juga sama sangat pentingnya. Apalagi jika dalam daerah pelosok tersebut, tingkat perekonomian masyarakatnya rata-rata ke bawah, maka bagaimana mereka dapat memenuhi kebutuhan akan membaca ? Tentu saja, ruang baca publik memberikan dampak yang signifikan apabila dapat terealisasi hingga pelosok negeri. Hal ini tentu saja harus menjadi agenda lanjutan pemerintah demi menyukseskan gerakan literasi nasional.


Salam Literasi ! #SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga