Perjuangan UTBK Berbuah Prodes ITS

Pengalaman UTBK Pertama Kali

Cerita ini sebenarnya adalah cerita lama saya saat lulus dari SMK tahun 2019. Sebelum akhirnya saya bisa kuliah di tempat saya, Kampus Kenanga di Yogyakarta, sebenarnya saya dulu sempat diterima di prodes ITS. 

Namun, ada suatu alasan mengapa saya dulu tidak jadi masuk ke dalamnya. Mengapa? Ada banyak alasan, dan ketika baru lulus dari sekolah, saya masih kerap sumbang akan masa depan... Linglung saja rasanya.

Saya juga tidak menyangka jika cerita ini masih ter-draft di blog lama saya. Saya agak tertawa jika dulu saya sempat menulis cerita yang sangat, yah, katakanlah sebagai pelampiasan saya. 

Tahun 2019, sekitar bulan Mei (Kalau Nggak Salah). Saya agak-agak lupa.

Beberapa hari kemarin saya sempat mendapat notifikasi dari ITS bahwa saya lolos untuk Prodes ITS. Akan tetapi, saya tidak bisa mengambilnya, Mengapa?

Ada beberapa teman yang menanyakan alasannya, ada juga yang bertanya berapa sih rata-rata UTBK milik saya. Saya akan ceritakan perlahan.

Kalau boleh menuliskan secara jujur, sejak selesai ujian nasional, saya masih belum ada angan-angan untuk melanjutkan kuliah. Pandangan saya masih kabur kemana saya akan melangkah.

Adakalanya seorang guru di sekolah saya bertanya, “Kamu mau lanjut kemana?” Saya hanya menggeleng. 

Saya tidak tahu kemana langkah yang hendak saya ambil. Saya sendiri saat itu sudah sangat jenuh dengan dunia farmasi.

Namun, mendekati ujian masuk perguruan tinggi, orang tua saya menyuruh saya untuk ikut ujian. Saya bersikeras tidak minat mengikuti. Impian saya yang benar-benar ingin diraih adalah beasiswa keluar negeri.

Dan beruntungnya, ketika pengumuman hasil ujian nasional, nilai saya memenuhi persyaratan untuk ikut dalam beasiswa tersebut. Sebenarnya itulah tujuan saya sejak awal. Hanya saja orang tua saya tetap dengan prinsip supaya saya mengambil ujian masuk perguruan tinggi dalam negeri.

Saya takut murka mereka yang juga murka Allah, saya turuti kemauan mereka. Di sisi lain, saya ajukan beberapa syarat, saya ingin mengambil biologi MIPA. Disini orang tua saya masih saja kolot dengan kemauan mereka, mereka memberi saya pilihan, kalau tidak farmasi, kimia saja! 

Beberapa kali saya membujuk mereka bahwa saya ingin masuk biologi, tetap saja mereka meminta saya di farmasi atau kimia. Oke, saya ikuti kemauan mereka. Hanya saja, jika belum rezekinya, tahun depan saya ambil jurusan sesuai minat saya.

Deal! Kami sepakat.

Asal kalian tahu, jujur saja saya benar-benar tidak niat belajar untuk SBMPTN kala itu. Saya hanya mengikuti satu gelombang, dan itu pun saya mendaftar gelombang kedua ketika tanggal pendaftaran yang dijadwalkan hampir kadaluarsa. Saya ingin tertawa jika mengingatnya.

Ketika belajar, perhatian saya selalu teralihkan. Saya lebih suka membaca esai dan pengetahuan populer kala itu. Jika saya menyebutnya, belajar SBMPTN kala itu hanya menjadi sambilan. Hati saya terasa sesak saat saya belajar.

Sungguh susahnya.

Jadi, saya sering tinggalkan dan beralih membaca buku sains populer yang kebetulan saya beli di pasar loak di daerah Jember. Saat saya buka, wah, bahasa inggris semua. Hanya saja sangat menarik, maka saya lebih banyak menghabiskan waktu membacanya dibandingkan belajar SBMPTN.

Jika dikalkulasikan belajar saya, mungkin sekitar tiga mingguan. Saya mengambil jadwal UTBK sore hari dan bertepatan dengan bulan puasa. Ini adalah perjuangan yang tidak akan pernah saya lupakan.

Saya berangkat saat terik matahari hampir menyemai di kepala. Saya tiba di tempat ujian tepat pukul setengah satu. Saya sholat dulu. Nah, di tempat sholat itulah, saya bertemu beberapa orang yang kemudian menjadi teman. Dia mengajak saya berbicara dan bercerita banyak hal. Harapan dia untuk bisa kuliah di PTN impiannya dan perjuangannya selama ini untuk menghadapi SBMPTN.

Saat saya melihat ambisi di matanya, saya kadang merasa iri dengan anak-anak sepertinya yang telah memiliki tujuan dan orang tuanya mendukung mereka. Sedangkan, saya sendiri untuk bisa meraih apa yang benar-benar ingin saya raih masih saja terhalang restu orang tua.

Kami berjalan menuju beberapa ruangan dan rupanya kita seruangan. Benar-benar kebetulan yang menyenangkan. Kami menunggu sekitar setengah jam di luar ruangan menunggu jadwal memasuki ruangan.

Dia bertanya pada saya, “Kamu ingin ngambil jurusan apa?”

Saya hanya senyum, ”Entahlah, mungkin farmasi.”

Dia terdiam. Kemudian seseorang datang, “Mbak lulusan apa?”

“SMK.”

“Loh, kenapa kok nggak ngambil soshum saja, beneran yakin saintek mbak?! Susah loh mbak.” Kurang lebih dia berkata seperti itu, kemudian berlalu dari kami berdua.

Teman saya yang berdiri di samping saya hanya menatap saya. Dari matanya, saya tahu dia bukan temannya. Saya masih melihat anak itu menuju temannya yang membawa beberapa buku. Rupanya dia berasal dari SMA 1 Tanggul. 

Batin saya menanggapi, “Kenapa dia begitu meremehkan saya, memangnya kenapa kalau SMK?”

Dasar itulah yang membuat saya agak gemas ingin membalasnya. Namun, saya hanya diam saja. Dia yang sok kenal dan terkesan meremehkan, ingin rasanya saya mengembalikan ucapannya. Akan tetapi, di sisi lain saya juga masih riweh sama diri sendiri.

Itulah mengapa, timbul dalam diri saya untuk setidaknya membuat beberapa orang yang mungkin seperti dia, bungkam.

Teng!

Saya masuk ruangan. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh saya. Bahkan gemetar juga menggerayah di seluruh kaki dan telapak tangan saya. Ohh, seperti inikah rasanya. Saya hiraukan semua yang ada menyelimuti di ruangan itu. Pandangan orang-orang dan juga banyak hal. Fokus pada satu tujuan, ujian.

Nah, di sini masih ada kejadian lucu yang saya tidak akan pernah lupakan. Saya duduk di barisan kedua. Di depan samping saya ada dua orang gadis yang asal sekolahnya sama.

Saya tahu itu ketika dia menyodorkan lembar keterangan lulus pada teman yang ada di belakangnya. Dan memang ketika dia melakukannya, sangat kelihatan rupa apa yang tertulis seakan berniat menampakkan.

Namun, hati saya tertawa, kenapa? Mereka berasal dari sekolah dengan reputasi yang dikenal sangat baik. Namun, attitude mereka masih bisa dibilang perlu perbaikan. Di tengah mengerjakan soal, di saat semua teman-teman serius mengerjakan, mereka bertukar jawaban saat pengawas hilang perhatian dari ruangan.

Hati saya bergumam, “Ah, rupanya sekolah baik belum tentu juga isinya baik.”

Pengalaman Mengerjakan UTBK

Apa yang saya pelajari saat menghadapi UTBK?

Saat inilah saya menyadari, tidak semua orang memiliki pemikiran seperti saya. Mungkin, beberapa orang memilih menyontek karena mengambil jalan pintas. Atau mungkin ada sebab lain, saya juga tidak ingin memikirkannya dalam-dalam.

Namun saya juga menyadari, tidak semua siswanya seperti itu. Hanya saja keadaan mereka menyandang nama baik almamaternya, kenapa tidak dijaga? Jika sejak awal berniat melakukannya, kenapa tidak diselipkan saja nama almamater sekolahnya?

Dan entah mengapa kondisi itu mengingatkan saya mengenai realitas saat ini, dimana korupsi marak terjadi. Dan saya berpikir betapa lucunya negeri ini.

Selesai ujian, saya pulang. Jarak tempat ujian dengan rumah saya lumayan jauh. Saya harus ke kota yang menghabiskan waktu perjalanan sekitar satu setengah jam.Azan berkumandang, saya berhenti sebentar mengambil minuman dan menyegerakan berbuka. Saya meneguk air kemudian melanjutkan perjalanan. Dan inilah yang luar biasa.

Entah mengapa waktu perjalanan pulang saya berlangsung cepat, tidak sadar saya sudah sampai di desa dekat tempat tinggal saya. Benar-benar luar biasa.

Sebelum pengumuman hasil UTBK, sempat saya cekcok dengan orang tua saya. Saya ingin mengambil biologi. Namun tetap saja sia-sia. Jadilah saya memilih farmasi kimia.

Jika ditanya kenapa memilih jurusan itu, saya jawab, “Saya pingin buat bom, meledakkan semua yang pingin saya ledakkan!” huahahaha, saya jadi ingat jawaban itu keluar karena rasa depresi saya.

Nah, ketika keluar pengumuman hasil UTBK, saya sempat terharu. Saya kira hasilnya akan jelek, rupanya ya, lumayan untuk orang seperti saya yang jujur tidak ada minat belajar ☹.

Hasil UTBK yang sedikit membuat saya lega. Hanya saja untuk fisika saya anjlok. Hihihi, karena sejak saya di SMK, saya tidak pernah bisa memahami apa yang guru fisika saya ajarkan. Mungkin teman seangkatan saya mengetahui penyebabnya, wkwk. 

Kemudian, saya mendaftar PTN di Malang. Kenapa? Ibu saya bilang disana enak, banyak teman dan kerabat dari ibu saya. Oke, saya ambil di Malang. Di Brawijaya; kimia farmasi.

Pengalaman SBMPTN Universitas Brawijaya

Di tengah proses pendaftaran itu, ada sebuah artikel kalau di UB bisa mendaftar walau minimal nilai rata-rata 500. Nilai saya Alhamdulillah lebih dari itu. Jadilah pikiran saya mengambil kesimpulan, “Wah, pasti pendaftar UB banyak tahun ini.”

Hahaha, benar saja dugaan saya. PTN dengan pendaftar terbanyak tahun 2019 di urutan pertama UB. Saya tidak berhasil masuk, tergeser dengan beberapa pejuang PTN lain. Saya menyesal kah? Oh, sedih tentu, menyesal tidak.

Ketika lulus di prodes ITS pun saya tidak bisa mengambilnya. Meskipun memang saya suka desain karena saya suka menggambar, tetapi orang tua lebih ridho jika saya masuk farmasi. Karena itulah, saya tunggu kesempatan selanjutnya. Ditambah, saya masih belum memiliki kekuatan dan keyakinan untuk melawan kemauan orang tua saya.

Loh kenapa? Eman? Alasan saya bisa kalian lihat di Artikel "Sukses Kita ada Pada Orang Tua". (Mungkin di artikel selanjutnya).

Farmasi memang jurusan yang banyak diminati dan bukan qadar saya berada di sana. Lagipula, pilihan hati saya masih belum benar-benar mantap untuk memilih jurusan kuliah itu. Jadi secara keseluruhan saya tidak juga menyesal. 

Saya beralih untuk bekerja, tantangan yang sebenarnya saya hadapi dan mungkin tidak akan pernah terbesit dalam pikiran kalian. 

Mungkin, saya memilih bekerja karena saya ingin melarikan diri dari tempat yang disebut 'rumah', tetapi kehadiran saya tidak pernah dihiraukan. Saat saya di perantauan inilah, perlahan saya bisa menemukan arti dari rasa marah, sedih, menyesal, depresi yang selama ini saya alami.

Jangan anggap remeh ya teman, Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang teman saya yang memiliki situasi serupa. Dia gap year dan kuliah di tahun selanjutnya di PTN.

Nah, walaupun tidak sesuai yang diperkirakan, tetapi di PTN itu dia berhasil menapakkan kakinya hingga mancanegara loh teman. Keputusan dia kuliah juga lebih mantap dibanding sebelumnya. Siapa dia? Cek di post selanjutnya ya 😊.

Oke, lantas masa Gap Year-ku bagaimana? Gimana sih cara saya belajar menghadapi SBMPTN? Jika teman-teman penasaran, silahkan tempel komen ya teman, nanti akan saya bahas bagaimana caranya secara gamblang dan mudah dipahami.

Catatan dari Saya

Saya benar-benar tidak berhenti tertawa saat membaca ini. Ketika saya menyadari draft ini masih tersisa di email saya - karena blog lama saya sudah terhapus permanen - Jadi, sekalian saja saya up lagi cerita pengalaman saya untuk kuliah. 

Sekadar tahu saja, saya sebenarnya memang telah terbiasa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu (Multitasking). Itu karena saya saat SMK juga sekaligus tinggal pondok pesantren.

Otak saya juga telah terbiasa membagi fokus dalam beberapa ranah. Hal ini karena dulu guru saya di ponpes memasukkan saya dalam program tahfidz. Bisa dibayangkan, sehari harus setoran satu lembar ayat Al Quran.

Saya hanya tak menyangka saya bisa melakukannya. Ditimbang keadaan saya yang benar-benar berada di titik terendah. Terkadang, saya memang tidak terlalu berpikir panjang, yang ada, ya udah, jalani saja.

Saya juga tidak pernah berpikir jika pada akhirnya harus berakhir di jurusan yang diingankan orang tua saya. Terkadang, muncul rasa saya ingin mengakhiri semuanya karena terlampau depresi dengan keadaan.

Namun, ada seseorang yang menyelamatkan saya kala itu terjadi. Nah, ini dia yang saya maksudkan saat saya menyelami masa gap year saya. Komunitas yang saya ikuti itulah dimana saya bertemu dia. 

Kalimat dia yang saya jadikan pedoman hingga sekarang, "Pelan-pelan, satu-satu. Yakin bisaa."

Saya juga memutuskan untuk, "Ya sudahlah, jalani saja. Biarkan hidup mengalir apa adanya. Mungkin, ada hal lain yang Tuhan coba sampaikan di balik semua ini."

Mengingat cerita saya yang masih belum juga up tentang kelanjutannya, saya minta maaf sekali. Di blog lama, rupanya kalian banyak yang nempel komentar ya. :(

Terima kasih, akan saya jawab ya, perlahan di postingan yang lain. Stay Tune :)


Update 22 November 2020

Omegarion Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena Kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

0 Response to "Perjuangan UTBK Berbuah Prodes ITS"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel