Review Buku Si Anak Singkong (Biografi Chairul Tanjung)

Si Anak Singkong: Buku Biografi yang sangat Menginspirasi

Buku Si Anak Singkong

Tepat tanggal 15 November 2020 saya tengah menyelesaikan membaca buku ini. Sebenarnya dulu saya tidak ada niatan untuk membeli buku ini, apalagi merasa tertarik.

Bahkan, saya dulu tidak mengenal siapa sebenarnya Pak Chairul Tanjung. Saya hanya pernah mendengar namanya saja.

Saya mendapatkan buku biografi ini setelah saya memutuskan membelinya dari teman saya seharga Rp25.000. Murah, bukan? Saya juga merasa beruntung mendapatkan buku bagus ini seharga demikian.

Ada banyak hal menarik dan sangat menginspirasi dalam buku ini. Terutama isinya yang langsung menilik kehidupan Pak Chairul Tanjung (Setelahnya saya sebut CT saja).

Sekilas tentang Pak Chairul Tanjung


Buku ini menceritakan secara lugas bagaimana perjuangan Pak CT hingga bisa menjadi konglomerat berpengaruh di Indonesia, bahkan dunia. 

Dan dari buku ini pula saya baru mengetahui bahwa Pak CT dulunya adalah seseorang yang berasal dari keluarga miskin. Namun, nenek Pak CT yang idealis mengukuhkan bahwa pendidikan adalah nomor satu.

Bahkan, awal masuk FKG UI (lagi-lagi saya baru tahu bahwa Pak CT alumni FKG ternyata), Ibu Pak CT harus menggadaikan kain halusnya untuk membiayai biaya awal masuk.

Dari sini, hati saya sudah merinding. Benar-benar perjuangan yang luar biasa. Dan untuk tetap bertahan, Pak CT harus bekerja keras sambil kuliah. Ia pernah membuka usaha fotokopi di bawah tangga dengan keuntungan 15.000 yang bisa di dapat.

Pak CT juga pintar melihat peluang. Dari buku ini, saya bisa menafsirkan karakter Pak CT memang telah membawa jiwa wirausaha.

Judul buku Si Anak Singkong menurut saya juga tepat. Perumpaan yang sanggup mengenai perjuangan Pak CT dalam satu frasa.

Sekilas tentang Buku Si Anak Singkong


Buku Si Anak Singkong disusun oleh Pak Tjahja Gunawan Diredja, wartawan Kompas atas permintaan Pak CT sendiri. 

Yang paling saya ingat mengapa Pak CT meminta Pak Tjahja dan bukan penulis lain yang lebih bisa dikatakan pengalaman karena idealisme Pak CT. 

Pak CT mengatakan, "Gue lebih sreg ama lu."

Benar-benar ciri khas orang yang mudah bergaul.

Pada sampulnya kamu akan melihat begitu banyak opini dari orang-orang berpengaruh yang memberikan komentar pribadi mereka tentang Pak CT. Sebut saja Pemimpin Umum Harian Kompas, Pak Jakob Oetama, alm.

Buku ini cukup tebal, halamannya bahkan mencapai 384 halaman.

Sebenarnya, buku ini semula diniatkan Pak CT untuk bisa diterbitkan saat Pak CT berusia 40 tahun dan memutuskan pensiun dari dunia bisnis.

Namun, Tuhan berkata lain. Buku ini baru bisa diterbitkan saat Pak CT genap usia 50 tahun. Dan seperti lingkarang yang berputar, ia juga tidak bisa pensiun dini karena dunia bisnis masih membutuhkannya.

Beberapa prinsip yang dianut Pak CT juga dikemas secara apik layaknya quotes. Meskipun, penyajian gaya bahasa dalam buku ini dikemas secara profesional.


Mengapa saya merekomendasikan buku Si Anak Singkong?


Banyak hal yang saya petik dari buku ini. Ditambah ketika posisi saya sedang dalam di titik terendah, saya akan membacanya kembali. Berkali-kali dan mengulang membaca buku ini tidak membosakan.

Bahasa yang digunakan oleh penulis buku juga bahasa lugas. Tidak seperti umumnya bahasa sastra yang menggunakan perumapaan. Bahasa dalam buku dikupas gamblang sehingga menjadikan buku ini cocok sebagai bahan bacaan ringan.

Dalam buku ini juga diselipi beberapa gambar berwarna Pak CT di beberapa aktivitas. Gambar-gambar ini sungguh menggambarkan rasa yang terkandung dalam buku sehingga mampu membuat kita bernostalgia bersama.

Sebenarnya jika menimbang 'cacat' dalam buku ini, saya tidak berhasil menemukan celah itu. Ditambah lampiran foto-foto Pak CT di bagian halaman akhir menambah nilai rekomendasi yang saya berikan.

Mungkin buku ini dikemas juga berdasarkan idealisme Pak CT. Di setiap melakukan sesuatu, Pak CT tidak ingin setengah-setengah, tidak ingin menjadi nomor dua. Kalau tidak menjadi yang nomor satu, ia lebih memilih untuk tidak terjun ke dalamnya.

Kalimat yang sangat melekat dalam kepala saya setelah membaca buku ini adalah
Disiplin, kerja keras, dan konsisten

Kalimat itu benar-benar menguatkan saya untuk tetap menggeluti bidang yang saya yakini. Dan secara tidak langsung, buku ini memberikan saya kekuatan untuk tetap melangkah.

Kalimat lain yang saya sukai:

Kemudian saya jelaskan bahwa kebiasaan bekerja keras dan hidup di bawah tekanan sudah dijalani sejak kecil. Jadi, sudah menjadi hal biasa. Rasa galau dan stres harus dijadikan sebagai teman hidup sehari-hari dan menjalaninya dengan tenang dan ringan.

Sisi Lain dari Buku Si Anak Singkong

Dari buku ini, saya menyadari suatu hal yang melekat menjadi karakter Pak CT. Apa itu? Beliau seorang yang religius. 

Bisa saya katakan demikian karena pengalaman-pengalaman Pak CT yang dijabarkan dalam bab Haji bersama Ibunya.

Sepanjang perjalanan ia menuntun ibunya, terlihat lebih seperti memeluk ibunya. Sebelumnya, Ibu Pak CT memang memintakan untuk haji. Keadaan waktu itu Pak CT diapit dua kegiatan mendesak bersamaan.

Namun, daripada memilih untuk menggugurkan kewajiban itu, ia memilih ibunya. Saya sangat terharu di bagian ini. Pak CT benar-benar sosok yang berbakti.

Pak CT juga merupakan sosok yang ketika berpikir, "Kalau saya mulai, saya harus dapat!"

Hal ini tergambarkan saat ia berinisiatif menawar harga tambang untuk keperluan praktik studi mapel biologi saat masih di SMA Boedi Oetomo. Kemudian, kembalian yang didapatkan ia belikan es shanghai bersama kawan-kawannya.

Dalam buku ini, saya memang lebih banyak rasa kagum. Bagaimana perjuangan Pak CT memulai usahanya benar-benar dari nol dan tidak ada campur tangan pemerintah.

Dan semasa kuliah di FKG UI, ia juga aktif di beberapa kegiatan mahasiwa dan bakti sosial. Di sisi lain, ia juga berwirausaha meskipun kecil-kecilan dan informal.

Saya hanya berpikir, manajemen Pak CT dalam mengurus waktu dan banyak hal sekaligus benar-benar luar biasa.

Ia juga sosok pribadi yang tidak suka menghabiskan waktu dengan sesuatu yang tidak bermanfaat dan menghasilkan. Katakanlah, "Waste time."

Pembuka dalam Buku 

Pembuka buku diawali kisah Pak Chairul Tanjung dan keluarganya yang harus hidup berpindah. Idealisme Ayah Pak CT yang fanatik membuat segala usahanya gulung tikar pada saat orde baru.

Karena keterbatasan biaya untuk menyewa losmen, mereka berakhir di salah satu perkampungan kumuh di pojok Jakarta, Gang Batu Tulis.

Namun, meskipun miskin, kedua orang tua Pak CT memiliki pemikiran kuat akan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta (karena pada saat itu sekolah swasta terkenal sangat disiplin).

Bahkan, SD dan SMP, Pak CT disekolahkan di sekolah katolik yang mayoritas golongan orang kaya. Lantas, ia tidak menjadi kecil hati dan rendah diri. Justru, di tengah-tengah mereka ia berpikir bagaimana caranya bisa bergabung dalam lingkaran mereka.

Karena karakternya yang supel dan mudah bergaul itulah yang membuatnya memiliki jaringan yang luas. Bahkan, saat bakti sosial ke Sumatera, ia juga mengenal salah satu gubernur di sana.

Bacalah buku ini saat kamu berada di titik terendah. Kamu akan melihat waktu terus berjalan dan kesempatan akan selalu datang bagi mereka yang terus berusaha.

Sudut pandang yang digunakan dalam buku ini memang terkadang berganti dari sudut pandang ketiga, kadang sudut pandang pertama. Namun, pembawaan cerita yang lugas mampu menutupi celah itu. 

Pembawaan cerita juga disampaikan secara runtut serta sistematis. Saya rasa, buku ini memang hampir mendekati sempurna.

Dalam buku ini kamu akan mampu memetik arti sederhana dan kerja keras yang mungkin tidak bisa kamu dapatkan dari buku lain. Jika kamu ingin membacanya, kamu bisa meminjamnya di ipusnas atau melalui aplikasi yang sudah tersedia di google play store.

Judul ketika kamu mencari di ipusnas mungkin sedikit berbeda. Saya rasa judulnya masih pada "The Extraordinar Story of Chairul Tanjung: Indonesia Most Inspiring Entrepreneur."

Isi dalam Buku yang saya sukai


Review buku si anak singkong

Bab 40 Si Anak Singkong

Quotes dalam Buku Si Anak Singkong






Omegarion Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena Kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

0 Response to "Review Buku Si Anak Singkong (Biografi Chairul Tanjung)"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel