Teknik Menulis Skenario Film



H.Misbach Yusa Biran
PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta 2006

Teknik menulis skenario film

[Meliputi : 1.Basic story, 2.Premise, 3.Sinopsis, 4.Penokohan, 5.Struktur Dramatik,
6.Kerangka Skenario -> 6.a. outline/story line, 6.b treatmen]

1.     Basic Story dalam pembuatan skenario film


Bagaimana membuat atau membangun sebuah rumah yang bagus dan indah? Apakah langsung membangun seperti yang ada dalam bayangan kita? Tentu saja tidak. Yang pertama dilakukan adalah membuat sketsa atau coretan gambar rumah akan berbentuk seperti apa. Itulah yang harus dilakukan untuk membuat sebuah basic story.
Jika ide cerita atau tema hanya ditulis dengan satu kalimat yang kuat, maka dalam basic story ide tersebut dikembangkan kedalam basic story, yang isinya tidak lebih dari satu halaman folio dengan spasi satu setengah dan font times new roman ukuran 12.
Biasanya basic story berkisar setengah halaman saja. Isi dari basic story itu ada keterangan tempat dan waktu, keterangan tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita, problem-problem utama, serta penyelesaian. Jangan malu-malu untuk menulis akhir dari cerita yang dibuat, jangan disimpan-simpan sendiri atau untuk membuat surprise orang. Tidak ada orang yang bisa anda kejutkan dalam proses penulisan skenario.

1. Tokoh utama dan tokoh-tokoh penting.

Pertanyaan pertama yang dilontarkan adalah “Siapa karakter utama / tokoh utama / protagonisnya -     ;  seseorang / sesuatu (bisa benda, hewan atau tumbuhan) yang menjadi pusat atau jantung dari film? Tokoh utama harus jelas! Karena tokoh utama adalah obyek yang diceritakan, maka sejak awal sudah harus dinilai apakah obyek penting itu menarik atau tidak.
“Apa yang tokoh utama inginkan?”

2. Alur cerita utama/Plot utama dan problem utama.

Yakni uraian lebih jelas dari plot utama. Yang sudah bisa membayangkan apa yang menjadi problem utama, bagaimana kekuatan dramatik cerita, serta keindahannya sebagai cerita.

Dalam film Bedjo van Derlaak, Kisah seorang tentara Indonesia yang terpisah dari regunya kemudian bertemu seorang tentara belanda, yang pada saat bersamaan harus membantu seorang perempuan hamil untuk melahirkan. Terlihat bahwa problem utama memiliki resiko yang fatal. Disatu sisi tentara Indonesia ingin membunuh tentara belanda, di sisi lain dia harus membantu seorang perempuan yang akan melahirkan.

3. Klimaks dan penyelesaian

Dengan tercantumnya klimaks dan penyelesaian dalam Basic story, maka akan bisa dinilai apakah langkah Action yang tertera dalam basic story memang cukup kuat untuk sampai pada klimaks? Apakah informasi yang diberikan cukup memberi penyelesaian yang dimaksud?
2.     <!--[endif]-- >Premise
Premise adalah pokok pemikiran, kesimpulan filosofis, pesan atau pesan moral. Beberapa filmmaker/sineas keberatan menggunakan istilah pesan/pesan moral karena mereka tidak mau menggurui penonton, mereka lebih menyukai dengan istilah isi cerita.
Premise harus ditetapkan oleh penulis sejak mulai mengkonsep sebuah cerita karena sebetulnya yang pokok mau disampaikan oleh penulis adalah Premise.
Dalam buku The Art of Dramatic Writing (1977), Lajos Egri mengatakan:
“Semua mempunyai tujuan dan pesan. Setiap detik dalam kehidupan kita adalah sebuah pesan, sadar atau tidak. Pesan mungkin bisa sangat sederhana seperti halnya bernapas atau sebuah keputusan emosional yang sulit, tetapi selalu ada. Sebuah film yang bagus harus mempunyai formula pesan. Tidak ada ide atau gagasan atau sebuah situasi, tidaklah cukup untuk membawa kesimpulan yang masuk akal tanpa sebuah pesan yang jelas.”
Sebuah pesan yang bagus berasal dari emosi -cinta, kebencian, cemburu, takut, keberanian, nafsu, dll— dan mengelilingi karakter, konflik, dan penyelesaian. Coba jabarkan sebuah cerita menjadi sebuah premise. Sampaikan dalam kalimat yang singkat dan padat. Jika masih kesulitan berarti seorang penulis belum paham apa yang mau disampaikan dalam cerita.
(Kejahatan) membawa (kekalahan) tetapi (Kebaikan) membawa (kesuksesan).
Contoh: Film Die Hard
(Ketamakan dan keserakahan) membawa (kerusakan dan kematian) tetapi (Pengorbanan/Cinta) membawa (kehidupan dan kegembiraan).
Contoh: Film Bedjo van Derlaak
Peperangan/kekerasan hanya akan membawa kematian/kerusakan, tetapi dengan  perdamaian/kerjasama akan membawa kehidupan/keselamatan.

Isi cerita adalah bagian film yang amat penting, karena faktor ini menentukan untuk mengetahui bobot suatu film, disamping mutu keindahan penyajian secara filmik. Artinya film dianggap bermutu apabila:
a.    Bobot isi cerita, pesan, kesimpulan filosofis, dan
b.    Indah penyajian filmnya.
Kalau bobot isi cerita bagus tapi penyajiannya jelek makan penonton akan bilang: “film ini sebetulnya bagus, tetapi enggak enak dilihat.” Atau sebaliknya, “Film ini enak dilihat, tetapi nggak jelas mau ngomong apa.”

Kalau film yang akan digarap berdasarkan dari gagasan yang dimulai dengan penentuan tema, maka Sinopsis merupakan pengembangan dari Dasar Cerita.

Sinopsis kurang lebih adalah ringkasan cerita yang berisi:
    Garis besar jalan cerita.
    Tokoh protagonis.
    Tokoh antagonis.
    Tokoh penting yang menunjang plot utama/jalan cerita utama.
    Terdapat problem utama dan problem-problem penting yang berpengaruh pada jalan cerita.
    Motif utama dan motif-motif pembantu Action yang penting.
    Klimaks dan penyelesaian
    Kesimpulan.

Penjelasan dari poin-poin di atas adalah sebagai berikut:

1. Garis besar jalan cerita.
Meski cerita diuraikan secara ringkas, namun harus memperlihatkan alur cerita yang jelas.

2. Tokoh protagonis dan Tokoh antagonis.
Tokoh protagonis harus dijelaskan siapakah dia? Apa keinginannya? Apa kejelekannya? Kelebihannya? Bagaimana membuat simpati padanya?
Tokoh Antagonis harus dijelaskan siapa dia? Kenapa dia harus menghambat tokoh protagonis? Apa alasannya? Apa kemampuannya untuk membuat penonton antipati?

3. Tokoh penting yang menunjang plot utama/jalan cerita utama.
Tokoh-tokoh yang penting untuk menunjang plot utama atau alur utama. Teman Protagonis atau Antagonis. Penggambaran tokoh ini sudah harus jelas ketika tokoh ini membuat bagian penting dalam bergulirnya sebuah cerita.

4. Problem Utama
Harus terlihat problem utama yang melahirkan alur utama cerita. Problem utama itulah yang membuat sasaran perjuangan protagonis sampai akhir.

5. Motif utama
Penilaian atas motif utama sejalan dengan problem utama, yakni apakah motif utama mendorong protagonis melahirkan cerita memang sesuai dengan problem utama yang melahirkannya.

6. Klimaks dan Penyelesaian
Pencapaian klimaks merupakan hal yang amat penting untuk dinilai karena klimaks adalah puncak dari tangga dramatik. Jika diandaikan klimaks harus berada tepi tebing yang curam dan sangat berbahaya. Alur cerita harus membawa protagonis ke arah tebing yang berbahaya!

7. Kesimpulan
Apa yang ingin disampaikan dalam cerita harus bisa disimpulkan dalam sinopsis. Jika dalam sinopsis belum bisa disimpulkan maka perlu ada tambahan informasi yang jelas.

Contoh sinopsis:

Sinopsis Bedjo Van Derlaak

Bedjo adalah seorang tentara Indonesia yang ikut bergerilya saat Belanda melakukan agresi yang kedua pada tahun 1949. Ditengah-tengah perjalanan, mereka diserang oleh sepasukan tentara Belanda. Pertempuran pun tak terelakkan. Bedjo, salah satu tentara dari pasukan Indonesia terpisah dari pasukan. Kemudian Bedjo menemukan sebuah rumah di tengah hutan yang di dalamnya terdapat Maryam seorang perempuan yang akan melahirkan dan seorang tentara Belanda bernama Hendrik Van Derlaak yang selalu berpindah tugas. Bedjo menyerang Hendrik karena mengira, Hendrik akan memperkosa Maryam. Tetapi Bedjo kaget saat melihat Maryam yang sedang hamil. Mendapat kesempatan menyerang, Hendrik berbalik menghajar Bedjo. Bedjo sadar bahwa Hendrik ternyata hendak menolong Maryam. Ketidaktahuan Bedjo tentang perempuan hamil membuat dia serba salah. Akhirnya Bedjo menuruti yang diperintahkan Hendrik untuk membantu kelahiran Maryam. Kedua tentara tersebut terjebak di dalam suasana yang sulit. Saat menunggu detik-detik Maryam melahirkan mereka bertiga berkeluh kesah. Bedjo yang bercerai gara-gara sering meninggalkan isterinya berjuang. Maryam seorang isteri pejuang yang dituduh selingkuh karena hamil setelah ditinggal pergi suaminya berperang. Dan Hendrik van derlaak seorang ayah yang sangat rindu dengan keluarganya. Tiba-tiba Maryam berteriak kesakitan. Hendrik dan Bedjo panik. Mereka saling menyalahkan hingga terjadi perkelahian sampai akhirnya Maryam menjerit kesakitan. Mereka tersadar dan kemudian saling bekerjasama untuk membantu Maryam melahirkan. Kelahiran anak Maryam membuat mereka memahami bahwa peperangan/kekerasan hanya akan membawa kematian/kerusakan, tetapi dengan perdamaian/kerjasama akan membawa kehidupan/keselamatan.

Kedudukan pelaku dalam cerita adalah hal yang terpenting. Karena tokoh utama dan para pendukunglah sebuah cerita dituturkan. Cerita adalah sebuah kisah tentang perjuangan Protagonis dalam menyingkirkan problema utama dan mencapai suatu tujuan. Maka itu, apa yang menjadi pok ok terpenting itu haruslah sesuatu yang menarik, unik, bukan tokoh basi. Semua pelaku cerita harus bisa membuat penonton sangat terpikat dan ingin mengetahui jalan cerita sampai akhir.

Tokoh Baru
Kemunculan tokoh baru sangat diinginkan penonton. Misal kemunculan tokoh-tokoh hero dan jagoan. Kalau cerita memunculkan tokoh cerita riil, bukan karangan, maka pasti tokoh itu berbeda dari yang pernah difilmkan. Karena sebetulnya tidak ada manusia yang sama di dunia ini. Dengan memberi tekanan pada ciri khas si tokoh, maka akan muncul tokoh baru. Biasanya penulis mencari-cari contoh yang sudah pernah dibuat orang dalam cerita sejenis. Karena tidak ada manusia yang bisa menciptakan sesuatu yang baru sama sekali. Tokoh yang pernah dia tahu, dia ubah-ubah sedikit atau banyak, sehingga perubahan itu bisa memunculkan tokoh yang baru maupun tokoh yang prototipe.

Menarik dan manusiawi
Karena tokoh cerita harus enak ditonton, maka tokoh tidak hanya baru tapi juga menarik. Kenapa tokoh bisa menarik? Karena tokoh baru dapat mempunyai keunikan yang mengundang keingintahuan.
Manusiawi, penonton sekarang menuntut apa yang dilihatnya lebih realistik. Dari tokoh biasa dan situasi yang wajar-wajar saja penonton berharap bisa menarik pelajaran bagi kehidupan mereka. Skenario secara tersamar memberi fokus pada keunikan yang ada pada tokoh yang biasa-biasa saja itu, gambaran tokoh yang muncul haruslah tetap manusiawi, karena dianggap lebih dekat dengan penonton.

Jelas karakteristiknya
Tiap tokoh harus jelas karakteristiknya. Baik ciri fisik, psikis, maupun falsafah hidup. Tidak cukup hanya diketahui bahwa “Amir adalah pemuda tampan yang baru selesai belajar bisnis di Amerika”. Semua harus jelas bagaimana karakter si Amir, usia berapa, bagaimana penampilan umumnya, bagaimana wataknya dan sebagainya. Intensitas penjelasan karakteristik ini harus sesuai dengan berapa banyak penjelasan bagi seorang tokoh yang dibutuhkan oleh cerita. Semua harus jelas!

Contoh penokohan:


TOKOH UTAMA
(Nama yang akan dipakai di naskah)
Nama lengkap    :   
Nama sesuai kartu identitas    :
Nama panggilan    :   
Tempat dan tanggal lahir    :   
Kultural
Ras / suku bangsa    :   
Agama / kepercayaan    :   
Status pernikahan    :  
Bahasa yang digunakan sehari-hari    :
Figur favorit    :    (tokoh yang dikagumi, boleh rekaan)
Olahraga favorit    :  
Hiburan favorit    :     
Acara TV favorit    :   
Bacaan favorit    :
Musik favorit    :
Film favorit    :   
Tempat favorit    :
Tempat tujuan favorit    :
Binatang favorit    :   
Binatang peliharaan    :   
Minuman favorit    :
Jenis minuman alkohol favorit    :     (kalau ada, sebutkan tingkat kekerapan minum)  
Rokok favorit    :     (kalau ada, sebuatkan tingkat kekerapan  merokok)  
Istilah, pepatah kesukaan    :     (kutipan dari media, kitab suci atau ucapan orang lain)
Filsafat hidup    :     (filsafat pribadi)
Skill
Pelatihan keterampilan khusus    :   
Keterampilan khusus     :    (yang diasah sendiri)
Pengalaman militer/organisasi     :   
Kemampuan dan bakat    :   
Keahlian mengendarai    :     (sebutkan juga jenis kendaraan)

Fisik
Tinggi badan    :   
Berat badan    :   
Bentuk tubuh     :   
Kondisi fisik    :
Warna kulit     :   
Warna mata    :   
Warna dan model rambut    :   
Ciri khusus pada wajah atau penampilan    :  
Kekurangan fisik    :     (atau keadaan fisik yang ingin dirubah oleh tokoh ini sendiri)
Penyakit yang diderita    :   
Gerakan tangan khusus    :     (sebutkan juga keadaan tokoh saat melakukan ciri tersebut)
Gaya bicara     :   
Kualitas suara     :   
Ekspresi verbal     :   
Penampilan     :   
Gaya baju atau baju favorit    :   
Cara berjalan    :   
Cara mengatasi kemarahan     :   
Makanan kesukaan    :   
Diet     :  
Ciri kesukaan pada lawan jenis    :   
Ciri yang menggairahkan tokoh    :   
Ciri yang tidak menggairahkan tokoh    :   
Psikologis
Intelegensi Umum    :
Kegemaran     :
Warna favorit    :   
Mudah tidaknya bergaul     :   
Temperamen / watak     :   
Sifat secara umum    :   
Sifat yang paling disukai    :   
Sifat yang paling tidak disukai    :   
Aspek yang disangkal    :   
Aspek yang tersembunyi    :     
Keanehan     :    (over / under reaktif mengenai hal tertentu)
Rasa humor     :   
Perihal yang ditakuti    :    
Benda hidup / mati yang ditakuti     :   
Mania     :   
Kelainan jiwa    :  
Trauma dari masa lalu    :        
Tujuan jangka pendek    :  
Tujuan hidup jangka panjang    :   
Masalah utama yang harus diatasi    :   
Jalan keluar dari masalah utama    :     (menurut tokoh ini)
Masalah kecil yang dihadapi    :   
Jalan keluar dari masalah kecil    :     (menurut tokoh ini)
Perkembangan yang dialami    :     (dalam cerita)
Pengalaman kunci yang membentuk sifat    :   

Sosial
Status pekerjaan    :
Kelas ekonomi    :
Pendidikan formal     :  
Latar belakang keluarga / keturunan    :    (berisi nama ayah-ibu, pekerjaan mereka, tokoh adalah anak ke berapa dari berapa bersaudara dan sanak saudara yang terlibat dalam cerita,)
Tempat tinggal     :     (mengambarkan rumah/kontrakan/kos, gaya arsitek bangunan, perumahan/perkampungan/perkotaan/urban, tata letak bangunan yang berpengaruh pada cerita, sistem sanitasi/MCK)
Lingkungan    :     (keluarga, lingkungan sekitar tempat tinggal, lingkungan kerja/belajar/kegiatan)
Kedudukan dalam lingkungan    :     (rincikan ke dalam keluarga, lingkugan tempat tinggal, lingkungan kerja/belajar/kegiatan)
Kebutuhan jangka pendek    :     (menurut tokoh ini)
Kebutuhan jangka panjang    :     (menurut tokoh ini)
Orang terdekat    :  
Teman dekat    :
Figur favorit    :    (tokoh dalam cerita)
Kendaraan yang dimiliki    :  

Personalisasi Lingkungan

Pendapat mengenai tokoh lain    :    (tokoh dalam cerita)
Pendapat mengenai Ayah    :
Pendapat mengenai Ibu    :  
Pendapat mengenai keluarga     :
Pendapat mengenai pertemanan    :
Pendapat mengenai pekerjaan    :
Pendapat mengenai persoalan lingkungan    :   
Pendapat mengenai homoseksual    :     
Pendapat mengenai kriminal    :   
Pandangan politik

TOKOH PENDUKUNG
(Nama dalam naskah)
dan seterusnya...


Struktur Dramatik

Menyampaikan cerita naratif adalah menuturkan jalan kisah hanya dengan tujuan agar yang mendengarkan tahu. Tidak terkandung maksud untuk menggugah emosinya atau mempersuasi komunikan. Sebaliknya menuturkan cerita dramatik untuk menggugah emosi pihak komunikan.
Untuk menuturkan cerita dramatik, sampai sekarang tidak bisa terlepas dari penggunaan resep kuno yang mengharuskan penyampaian tiga babak.

Dalam buku Poetics, Aristoteles percaya bahwa dasar setiap cerita yang bagus tidak hanya Awal, Tengah, Akhir tetapi juga harus melibatkan dua bentuk/tahap dalam plot utama: KOMPLIKASI (kesulitan) dan UNRAVELLING (menyelesaikan kekusutan/kesulitan).
Penyiapan kondisi penonton dilakukan pada babak I.
Pada babak II berlangsung cerita yang sebenarnya.
Dan pada babak III disediakan kesempatan bagi penonton memantapkan pemahaman final dan menarik kesimpulan.

BABAK I
Babak ini ada yang menamakan sebagai ”Opening” atau ”Persiapan” dan sebagainya. Tugas rekayasa yang dilakukan oleh penulis skenario pada babak ini adalah:
    Membuat penonton secepatnya memfokuskan perhatian kepada film.
    Membuat penonton bersimpati pada protagonis.
    Membuat penonton mengetahui apa problem utama protagonis.

BABAK II
Pada babak ini berlangsung cerita yang sesungguhnya. Disinilah cerita betul-betul dimulai dan berjalan hingga akhir. Babak II ini berisi:
    Point of attack
    Jalan cerita
    Protagonis terseok-seok
    Klimaks

BABAK III
Pada babak III ini cerita sudah ada kepastian berakhir sebagai happy end atau unhappy end, dan disini penonton diberi kesempatan meresapi kegembiraan yang ditimbulkan oleh happy end, atau rasa sedih yang ditimbulkan oleh unhappy end. Juga memantapkan kesimpulan atau isi cerita.
Dalam A Crash Course in Screenwriting by David Griffith:
Film pendek kurang lebih memiliki konflik seperti feature film dan mempunyai struktur yang hampir sama. Strukturnya adalah sebagai berikut:
    Pengenalan karakter dan setting (keadaan).
    Apa yang diinginkan karakter utama.
    Bagaimana tokoh memperoleh apa yang diinginkan
    Set-backs – Karena tokoh tidak sadar atau tidak berinisiatif apa yang sebenarnya diinginkan, tokoh biasanya akan mengambil jalan yang salah. Inilah yang membawa tokoh utama ke dalam konflik dengan orang lain yang tidak menyukai apakah yang tokoh utama lakukan atau jalan tokoh utama tempuh.
    Konflik – Argumentasi dan perdebatan menjadi lebih dan semakin hangat sampai terlihat seolah-olah tokoh utama akan kalah.
    Perjuangan Akhir – Tokoh utama mengeluarkan segenap kemampuan dan usahanya untuk mencapai tujuannya.
    Akhir – tokoh utama menemukan bahwa apa yang dipikirkannya tentang keinginannya di awal cerita hanyalah bagian dari sebuah kenyataan.
Bagaimana semua elemen cerita ada dalam film pendek?
Pertanyaan ini tentu saja berhubungan dengan bagaimana menekan aksi (action), membatasi tema dan yang paling penting – membatasi jumlah karakter/tokoh. Film pendek biasanya menggunakan dua karakter: Tokoh utama dan lawan main utama.
Karakteristik film pendek berdurasi 8-12 menit kira-kira sebagai berikut:
    Biasanya hanya menggunakan tokoh utama dan lawan main tokoh utama dengan dua atau tiga supporting karakter.
   
Cerita fokus pada waktu yang spesifik pada konflik antara dua karakter utama.
    Tema ambisi biasa digunakan, bukan tentang tema moral yang kompleks.
    Dengan ambisi sebagai tema, akan lebih bisa bermain dengan harapan penonton, tentang simpati, kasihan, takut kepada tokoh utama.

Kerangka Skenario

Ketika Sinopsis dipindahkan ke bentuk skenario, maka terjadi perubahan media yang digunakan untuk menyampaikan informasi . Dari media kata-kata ke media film. Umpamanya, informasi yang dijabarkan empat kata tertulis dibawah ini:
Seorang gadis pulang larut malam.

Menjadi gambaran visual, sebagai berikut:
Seorang gadis berjalan malam hari, agak kedinginan, lengang. Terdengar salak anjing di kejauhan, menambah tinggi suasana kesunyian dan sedikit Seram.
Pemindahan itu memerlukan tambahan imajinasi filmis. Penulis harus membayangkan “film” adegan itu. Maka itu ia menambahkan: gadis itu agak kedinginan, dan tambahan salak anjing untuk membentuk dramatik.

Maka itu dianjurkan sekali agar skenario tidak langsung digarap setelah membuat sinopsis. Tapi harus melalui tahap-tahap perencanaan dan pembuatan kerangkanya dulu.

Untuk memasuki tahap itu, pertama-tama penulis harus mempertanyakan bahan kerangka tersebut secara garis besar:

a. Bagaimana Cerita akan dituturkan dalam filmnya nanti.


Yakni sesuai dengan tuntutan “penuturan dalam tiga babak”. I. Pembukaan, II. Pengembangan, III.Penyelesaian. Maka timbul tuntutan untuk membuat 1. Pembukaan yang kuat untuk menggaet perhatian penonton, 2. pengembangan urutan cerita yang kuat, 3. Klimaks yang mencekam. Maka mungkin harus mengubah urutan cerita, mengurangi atau mengubah.

b. Bagaimana cara menggambarkan adegan-adegan yang efektif dan menarik secara filmik.

Adegan-adegan sudah harus dibayangkan oleh si penulis sebagai tayangan film. Umpamanya, apa yang dalam sinopsis ditulis sebagai “adegan pesta ulang tahun di kafe yang nyaman” harus dibayangkan bagaimana pesta tersebut dalam adegan film. Bagaimana kesan “nyaman” itu harus digambarkan? Bagaimana menyajikan suasana pesta yang kecil namun hidup? Apa ada musik? Apa sentuhan khusus yang harus ditambahkan agar adegan tambah hidup? Informasi apa yang bisa dirangkum dalam adegan itu.

c. Bagaimana penataan dramatiknya.

Secara garis besar mulai membayangkan dimana tangga dramatiknya mulai naik, dimana Point of attact-nya, lalu bagaimana klimaksnya?
Karena banyaknya perubahan dalam urutan penuturan maupun cara penyampaian informasi, maka sebelum melangkah ke pembuatan skenarioperlu dikonsep dulu secara seksama.

Adapun tahap membuat skenario film, akan dibahas dalam artikel selanjutnya.

Omegarion Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena Kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

0 Response to "Teknik Menulis Skenario Film"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel