Kumpulan Puisi Pujangga Terkenal

Kumpulan puisi pujangga terkenal

TANAH AIRKU

Karya:  Soetradji Calzoum Bachri

Tanah airmata tanah tumpah dukaku.
Mata air airmata kami
Airmata tanah air kami
Disinilah kami berdiri
Menya nyikan air mata kami
Dibalik gembur subur tanahmu
Kami simpan perih kami
Di balik etalase megah gedung-gedungmu
Kami coba sembunyikan derita kami
Kami coba simpan nestapa
Kami coba kuburkan duka lara
Tapi perih tak bisa sembunyi
Ia merebak kemana-mana
Bumi memang tak sebatas pandang
Dan udara luas menunggu
Namun kalian takkan bisa menyingkir
Kemana pun melangkah
Kalian pijak airmata kami
Kemanapun terbang
Kalian kan hinggap di air mata kami
Kemanapun  berlayar
Kalian arungi airmata kami
Kalian sudah terkepung
Takkan bisa mengelak
Takkan bisa kemana pergi
Menyerahlah pada kedalaman air mata
(1991)

DALAM DOAKU

Karya: Sapardi Djoko Damono

Dalam doaku subuh ini kau menjelma
Langit yang semalam tak memejamkan mata, yang meluas bening
Siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
Karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala
Dalam doaku, kau menjelma
Pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
Mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
Yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma
Seekor burung Gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
Yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga Jambu
Yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau
Menjelma angin yang turun san gat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
Di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
Di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doaku malamku kau menjelma
Denyut jantungku yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
Yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
Demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
Bagi kehidupanku

Aku mencintaimu
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
Keselamatanmu.

KITA ADALAH PEMILIK SAH REPUBLIK INI

Karya: Taufiq Ismail

Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita?
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku?”
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya  inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.
(1966)


KEPADA KAWAN

karya: Chairil Anwar

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
Mencengkeram dari belakang ‘tika kita tidak melihat
Selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa

Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
Tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
Layar merah berkibar hilang dalam kelam,
Kawan, mari kita putuskan kini di sini
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi,
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan,
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat
Tidak minta  ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi,
Mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!

KEPADA PEMINTA-MINTA

Karya: Chairil Anwar

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dari segala dosa
Tapi jangan tentang aku lagi
Nanti darahku jadi beku.