Cerpen Psikologi: Gerimis

 

cerpen psikologi

Jika kamu disuruh memilih, dan Tuhan akan kabulkan, apa yang kamu minta?

Dia tersenyum, meskipun Aku tahu, senyum teduh dan menenangkan itu menyimpan banyak luka. Dia palingkan lagi wajahnya dariku menatap gerimis, dan berkata, "Entahlah, aku tidak memiliki banyak hal yang disuka, tetapi begitu banyak hal yang kubenci."

"Teman hidup?" ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku.

Dia menatapku, masih dengan tatapan yang menggambarkan, ia tak memiliki harapan. Dia membuka bibirnya, "Bukankah dokter telah menjadi salah satunya?"

Kenapa aku justru salah tingkah dan garuk-garuk kepala. Kurasa teman hidup yang dimiliki dalam pemikirannya berbeda dari pemikiran yang kumiliki.

Kuturunkan tanganku, menghela napas pelan. Bagaimana cara supaya dia benar-benar sembuh dari lukanya, sedangkan dia tidak mau jujur dengan kata hatinya? Apa yang dialaminya? Dan sendirian hanya menyimpannya?

Aku menatapnya, sedang yang kutatap masih dengan mata yang sama, memandang gerimis yang tiada menunjukkan tanda untuk berhenti.

"Kamu tahu, susah bagi kami untuk membantumu jika kamu tidak mau jujur dengan apa yang kamu alami."

Dia terdiam, masih menatap gerimis di luar. "Aku tidak bisa menceritakannya. Entah kenapa aku begitu bimbang dan segalanya tampak begitu suram. Segala masalah yang telah kulalui hingga sekarang membuatku kehilangan rasa dengan apa yang terjadi di sekeliling aku berjalan. Setiap malam ingin menangis, tetapi air mata ini tidak bisa menetes, seakan tertahan."

"Kira-kira, apa yang kamu coba tahan di dalam hatimu yang terdalam? Pernahkah kamu disakiti seseorang, tetapi kamu memilih menahannya?"

Akhirnya dia menatapku, dalam diam. Dia menggeleng. Aku menarik napas, kugigit bibirku. Kenapa di tahun pertamaku, aku mendapat pasien yang kesulitan untuk mengenali dirinya sendiri. Bukan, dia hanya tidak bisa menerima dan jujur dengan rasa sakit yang ia terima.

Aku melihat surat keterangan konseling, ini yang ke sebelas kalinya.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucapnya.

"Silakan."

"Kenapa dokter menjadi psikiater?"

Aku melipat kedua tanganku di antara perut dan dada, kusandarkan bahuku. "Hm, Kamu ingin mendengar jawabanku sebagai dokter atau teman?"

"Teman." Kulihat tatapan matanya yang bersemangat.

"Ini karena pengalamanku di masa kecil."

"Kenapa?"

Aku tersenyum dan menggenggam kedua tanganku di atas meja, menarik sedikit punggungku ke depan. "Ini akan panjang, bersediakah kamu mendengarkannya?"

Dia mengangguk, dengan semangat yang sama.

"Dulu, aku tidak memiliki siapa-siapa. Orang tuaku sering bertengkar, tetapi tidak bercerai. Aku sering dimaki oleh Ayahku saat itu, dengan sebutan, 'pintar tapi tidak berguna' karena aku mirip ibuku. Olokan dan cacian membuatku semakin sadar, aku tidak memiliki tempat untuk pulang. Ketika mencoba bercerita, ternyata juga tidak berguna. Ketika berusaha untuk mengeluarkan apa yang sesungguhnya kuinginkan, ternyata..."

Aku menarik napas dalam-dalam. Kulihat matanya sejenak, dia tertarik!

"Aku tidak bisa kuliah, tidak diterima lamaran kerja setelah ratusan atau bahkan ribuan lamaran yang kukirimkan, kehadiranku benar-benar tidak diinginkan. Satu kesempatan diterima kerja, ternyata tidak lama harus di-PHK. Aku pernah berada di titik terendah, bahkan saat posisi seperti itu, orang tuaku ikut menghakimiku, pemalas, tidak berguna, dan satu-satunya keahlian yang kumiliki, menggambar, dikatakan buang-buang waktu oleh mereka."

Aku menatapnya, tersenyum, "Dulu, Aku memiliki akun instagram yang berisi gambaran yang kubuat. Terkadang, aku mendapatkan uang dari sana."

Dia mengangguk, "Terus?"

Aku melihat ketertarikan dalam matanya. Mungkin, perasaan seperti inilah yang dia pendam. Tekanan dan beban sosial yang ia rasakan, sama halnya seperti masa muda dari cerita-cerita yang sering kudengar.

"Saat seperti itu, tidak ada pemikiran lain dalam diriku selain, 'Aku ingin menghilang, Tuhan'. Namun, aku cukup tahu, Tuhan tidak akan sekejam itu. Suatu saat, aku bersama bibiku mengunjungi seseorang, istri camat di tempat aku tinggal dulu. Orang-orang mengatakan dia gila dan pikirannya sudah tidak waras. Saat tiba di sana, aku melihatnya, tatapan mata yang kosong, ia hidup tetapi seakan tak bernyawa. Dia duduk di kursi. Bibiku mencoba berbicara dengannya, tetapi tidak mendapatkan respons sama sekali."

"Aku bersandar di dinding, menatapnya agak jauh. Saat itu, tiba-tiba keluar dari bibirku, 'Berat, ya? Bahkan, setidaknya hanya untuk mencoba hidup?' Dia sontak melihatku. Saat orang lain tak ia dengarkan, kalimat sederhana itu mampu menggerakkan matanya untuk benar-benar menatapku. Dan kali pertamanya, seseorang mendengar isi hati yang saat itu tak seorang pun tahu."

"Aku memang takut saat itu, tetapi aku paham, dalam hatinya ada luka yang menganga yang ingin disembuhkan. Orang-orang mengatakan, dia telah dihinggapi makhluk halus, seperti jin. Namun, dari pandanganku, itu adalah rasa sakit dalam hatinya yang tidak mampu dikeluarkannya, sama sepertiku dulu. Saat itulah muncul dalam diriku, aku ingin menjadi seseorang yang setidaknya mampu mengubah hidup orang lain."

Ceritaku selesai. Dia terdiam, masih dengan menatapku. Hening, hanya menyisakan suara detak jarum jam dinding.

"Seakan dokter membaca isi kepalaku."

Datar kalimatnya membuatku tersenyum.

"Sebetulnya, tidak ada obat yang lebih baik untuk diri sendiri selain pikiran yang damai. Kamu mungkin terpuruk karena keadaan, ditinggalkan seseorang, atau mungkin kalimat hinaan yang membuatmu kehilangan semangat untuk tetap hidup. Tapi, ingat, kekuatan untuk menyembuhkan luka kamu bukan datang dari orang lain, tetapi dari diri kamu sendiri."

Dia berdiri, membungkukkan badannya, "Saya akan kembali lain waktu."

"Tunggu!" Langkahnya tersekat, ia berbalik memandangku, "Jangan menghadapinya sendirian. Jika kamu tidak bisa mengeluarkan rasa marah dan sedihmu, pakai ini!"

Kusodorkan sebuah plastik cokelat padanya. Dia membacanya, tulisan di atas plastik, "Resep, keluarkan isi hatimu yang sesungguhnya di sini."

Dia tersenyum tipis, "Terima kasih."

"Pakailah saat kamu ingin mengeluarkan emosimu yang sesungguhnya dalam plastik itu."