Contoh Cerpen Tema Kesepian dan Air Mata

 
Contoh Cerpen Tema Kesepian dan Air Mata

Cerpen Tema Kesepian: "Euthanasia"

Ketika aku melihat ke belakang, aku melihatnya menangis. Segera ia mengusap air matanya, teduh, tersenyum. Ukiran kepalsuan yang sering kali kulihat pada orang-orang.

"Kau tidak apa-apa?" tanyaku.

Dia menggeleng, kemudian pamit.

Kepalaku berat, untuk berpikir pun susah...

Mungkin, itu yang dia pikirkan, sama sepertiku. Kami hanya bisa memendamnya, jauh dalam sangkar yang tidak seorang pun bisa melihatnya.

Hujan turun, mengguyur seketika. Memaksaku berlari meneduh di bawah atap koperasi rumah sakit. Hening, karena ini adalah hari libur. Dan aku terpaksa mendatangi tempat ini karena check in rutin.

Dan ada orang lain yang berdiri persis di belakangku. Ia mencoba tersenyum, begitu aku menoleh. Sama, aku pun tersenyum padanya.

Dan, suara itu kembali terdengar. Bising yang sangat tajam di telingaku. Hanya terdengar di telingaku.

Tentang sertifikat dan penghargaan yang telah kudapat selama ini, untuk apa? ...

Aku terdiam, aku sadar, aku tahu, dan aku melihatnya. Itu bayangku sendiri, dalam kaca. Ya, aku berbicara pada diriku sendiri. Hanya ada aku dan bayangku di sini, di balik cermin. Aku bisa melihat diriku sendiri tersenyum. Meski mungkin aku juga sedang membohonginya.

Dingin, dan juga menyakitkan?

Aku tertawa, meledek diriku sendiri. Dalam keheningan malam yang tidak lagi seorang mendengarnya.

Bagaimana? Hatimu masih kuat, kah, Rion?

Sebuah bisikan yang selalu datang menertawai diri sendiri, selalu datang untuk menyalahkan diri sendiri.

Pada akhirnya, aku terjebak di dunia yang sama. Meski sebagian kecil hatiku bersuara...

Tenang, pasti ada masanya...

bagimu untuk tersenyum :)

Namun, dunia ini terlanjur membuat itu semua memudar. Segalanya dari mataku menghilang, redup perlahan hingga aku tidak mampu lagi melihatnya.

Aku menengadahkan tanganku, menangkap tetesan air hutan dari atas. Dingin.

"Berat kah, bersandiwara dengan dunia ini?"

Aku memalingkan wajah, melihat suara seseorang yang ada di sampingku, mengucapkannya tiba-tiba. Aku tersenyum, meski sedikit pusing kembali menggerogoti kepalaku. Mengangguk, "Ya, mungkin keberadaan diriku akan benar-benar..."

Aku merasakan lenganku basah, dingin oleh genangan air hujan. Pandanganku meredup, gelap.

***

Maafkan kehaluan yang hakiki ini. Aku hanya menulis sebagai bagian dari pengobatan mental yang kuperlukan. Salah satunya adalah menulis cerita halu ini setidaknya bisa menenangkan bagian diri yang selalu menjerit, tetapi tidak terdengar oleh siapapun.

Cerita ini menjadi bagian dari serial novel yang hendak penulis terbitkan dengan judul Mimpiku atau Mimpi orang tuaku.

Dengan kata lain, bagian cerita yang ditulis di sini adalah sebuah cuplikan atau sebuah ide gambaran dalam novel tersebut.

Cerita ini, dibuat bersambung dan hanya beberapa bagian yang ditulis. Jika ingin lengkapnya, kalian bisa membeli bukunya di gerai buku yang ada di kota kalian, Gramedia, TogaMas, dkk.

Selamat Membaca.

Bersambung...

Cerpen Tema Kesepian yang Mengangkat Kejiwaan Seseorang

Cerpen di atas sebenarnya adalah sebuah cuplikan dari novel yang saya tulis. Dengan judul novel yang sama, mengangkat cerpen psikologis dengan tema cerpen kesepian dengan judul utama Euthanasia.

Untuk kamu yang belum tahu, Saya akan memberitahu apa itu Euthanasia? Euthanasia adalah semacam tindakan dalam dunia medis untuk meringankan derita orang yang didiagnosis tidak memiliki umur lagi. Euthanasia sendiri merujuk pada kondisi di mana seorang dokter memutuskan menyuntikkan cairan untuk mengakhiri hidup seseorang atas permintaan pasien.

Nah, dalam novel yang saya angkat ini, dokter tersebut memiliki hubungan yang tidak pernah disadari oleh tokoh utama perempuan. Selama ini, tokoh perempuan menderita karena gejolak batin yang menggorok hatinya secara perlahan. Hingga dia tidak menyadari telah mengidap skizofrenia karena depresi hebat.

Namun, dibalik rasa putus asa itu, di mana tokoh perempuan harus rutin check up ke rumah sakit untuk memeriksa mentalnya dan kesehatannya yang dirongrong oleh penyakit susulan. Dan, permasalahan baru yang harus dihadapinya adalah penyakit yang ia sembunyikan dari dulu, hanya Dokter itu yang mengetahuinya.