-->

Sering Kalah Lomba Blog? Ini Tips Menang Lomba ala Bang Nodi

Artikel dari blog lama kurotasanry.blogspot.com (blog telah dihapus)

Beberapa referensi didasarkan dari pengalaman
Blogger Adhi Nugroho (Nodi) | Narablog www.nodiharahap.com


Pertama, perlu kalian ketahui saya menulis ulasan dari sharing dengan Bang Nodi ini hanya ingin sekadar berbagi dari apa yang telah saya pelajari. Syukur-syukur jika tulisan ini bisa menjadi pelantas rezeki bagi siapa pun yang membaca.

Sebagaimana kalian ketahui, lomba blog adalah salah satu cara bagi seorang blogger untuk menghasilkan pundi-pundi pemasukan. 

Setiap tahun, selalu saja ada lomba-lomba berskala nasional yang diselenggarakan. Hadiahnya pun macam-macam. Mulai dari uang tunai, voucher belanja, hingga berbagai gawai terkini. 

Bahkan, ada salah satu penyelenggara lomba yang berkenan memberikan mobil dan sepeda motor bagi pemenang. Untuk yang suka ikutan lomba blog, pasti tahu bukan lomba mana yang saya maksud😂.

Nah, keseluruhan ulasan yang saya tulis di bawah ini adalah berdasarkan pengalaman Bang Nodi selama mengikuti lomba. Dan tidak dipungkiri, Bang Nodi telah memenangi banyak lomba karenanya.

Sedikit cerita bagaimana saya mengenal Bang Nodi. Waktu itu, seusai lomba blog yang diprakarsai Bang Nodi dkk, termasuk saya di dalamnya sebagai partisipan, saya memperoleh banyak pelajaran. 

Bang Nodi, menurut pandangan saya, adalah seseorang yang sangat humble dengan orang lain, meskipun belum pernah ketemu langsung di dunia nyata. Termasuk juga beberapa juri yang menjadi penilai karya para kontestan, yang sangat saya ingat adalah Bang Joe Chandra. Dia tidak hanya menyeleksi dan memilah karya, tetapi juga memberikan masukan secara langsung di komentar blog di beberapa karya, termasuk saya.

Awal cerita, saya tidak menyadari kalau Bang Joe Chandra benar-benar singgah ke blog saya dan memasang sebuah komen. Saya baru bisa menjawabnya ketika waktu lama berlalu setelah lomba. 

Saya sangat mensyukurinya. Mengapa? Meskipun ya, saya tidak menjadi pemenang, tetapi masukan-masukan dari mereka sangat membantu. Berkat hal itu, saya memiliki relasi baru, jaringan, pengalaman dan tentunya pembelajaran baru tentang kelemahan tulisan artikel saya selama ini.

Saya masih ingat, Bang Joe menyebut karya saya menarik, menyimpan kekurangan di mana saya tidak menggunakan infografis dari editing pribadi. Maksudnya saya up artikel memang karya orisinalitas saya sendiri, tetapi gambar-gambar pendukungnya masih, istilahnya nyuri-nyuri. 

Maklum, waktu itu saya juga masih pemula untuk usia penulis blogger dan saya masih belum mengenal infografis, desain pendukung, HTML serta CSS, dan sebagainya.

Karena bertemu mereka, barulah saya lebih memahaminya. Saya mulai mengedit gambar sendiri, infografis edit sendiri, sampai-sampai kalau ada audio atau video pendukung, saya juga mengolahnya sendiri. 

Saya yang semula tidak tahu apa-apa, akhirnya mengerti, oh inilah selama ini kelemahan saya. Syukur saya tidak terkira, bahkan Bang Nodi sampai sekarang aktif berdiskusi mengenai penulisan artikel dan menjadi narablog yang produktif.

Oke, kembali ke topik awal. Bang Nodi pernah membahas mengenai hal ini. Bang Nodi akan mengepos prestasi yang diraih di akun instagramnya, satu-dua pertanyaan selalu datang melalui kolom komentar atau direct message, termasuk juga saya: Bagi tips memenangi lomba blog dong, Bang!

Mulailah Bang Nodi merasa memang perlu untuk membagikannya. Rasanya memang gatal ketika orang lain ingin belajar sesuatu dari kita. Karena itulah, Bang Nodi sharing pengalaman semacam ini di akun instagramnya. 

Postingan itu sebenarnya sudah lawas, tetapi saya ingin membagikannya juga dengan teman-teman apa yang sudah saya pelajari selama ini.

Poin awal yang saya jadikan pedoman hingga sekarang, kata-kata yang sering Bang Nodi utarakan memang apa yang telah Bang Nodi lalui dan lakukan.

Tidak ada kemenangan tanpa perjuangan, tiada prestasi lewat gratifikasi. Dengan kata lain, tidak ada yang instan. Ada proses yang mesti dijalani. Perjuangan menggambarkan apa yang akan kita dapatkan di masa depan!

Bang Nodi selalu mempercayai hal ini. Jika sikap dan teknik sudah benar, maka kemenangan tinggal menunggu waktu saja. Cepat atau lambat, ia akan kalian genggam. Yakin! Tuhan menjamin rezeki dan prestasi kepada hamba-Nya yang gigih berikhtiar.

Yang jadi masalah, sudikah kalian untuk terus belajar? Maukah kalian terus mencoba meskipun selalu dirundung kekalahan? Atau jangan-jangan baru kalah satu kali saja kalian ogah ikut lomba berikutnya? Kalau seperti itu, bagaimana bisa keluar sebagai pemenang?

Oleh karena itu, Bang Nodi menuliskan artikel ini untuk sharing tentang bagaimana Bang Nodi selama ini bisa memenangkan lomba-lomba Blog. Sebut saja memang Bang Nodi beberapa kali menjadi pembicara di beberapa komunitas dan pertemuan kepenulisan. Oke, langsung saja ke poinnya!

Tips Menang Lomba Blog

Bang Nodi membagi ulasan sharing menjadi dua bagian. Yang pertama, sikap. Sedangkan bagian kedua berkaitan dengan teknik. 

Bang Nodi menegaskan kedua hal itu penting, sebab teknik yang apik tanpa dibarengi sikap yang baik, sama saja fatamorgana.

Ambil contoh, katakanlah kalian sangat ahli menulis cerpen, tetapi mental kalian mental kaleng. Tatkala menang langsung sumringah. Namun, ketika kalah, sedihnya ga udah-udah. Kalau memang kalian seperti ini, ya, susah!

Sebaliknya pun sama, mungkin saja satu-dua kali menang lomba blog. Namun, jangan berharap menjuarai lomba esai – lomba yang teknik penulisannya sering kali menjadi penilaian utama. Baiklah. Kita masuk dalam pembahasan utama, berikut ulasan Bagaimana jurus Bang Nodi memenangi lomba.

Perihal Sikap: Jangan Putus Asa hingga Gigih Belajar

Sikap akan menjadi fondasi kalian dalam proses belajar. Kalah menang, mental yang akan menentukan sebuah kesuksesan besar. Sikap yang benar akan memperbesar peluang memenangi sebuah lomba. Bang Nodi menguraikan ada tiga sikap yang perlu kalian tanam dalam-dalam dalam proses mendalami kepenulisan blog.

1. Pantang Menyerah
Kalian pasti pernah merasa yakin akan memenangi sebuah lomba, tetapi kenyataan berkata berbeda. Sudah yakin menang, eh, harus gigit jari tatkala pengumuman.

Jangan khawatir. Bukan kalian saja yang pernah mengalami hal demikian. Seluruh jawara lomba pasti pernah merasakan hal serupa. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada mereka.

Jujur saja, hal yang paling menyakitkan dalam mengikuti lomba kepenulisan adalah menerima kekalahan. Untuk itulah, sikap pantang menyerah sangat dibutuhkan bagi kalian yang ingin memenangi suatu lomba kepenulisan.

Mudahnya begini. Jadikan kekalahan kalian sebagai pengalaman. Sebaliknya, jangan jadikan kekalahan sebagai asalan untuk menyerah. Jangan! Sedih sebentar boleh, asalkan tidak sampai menghambat kalian untuk mengikuti lomba selanjutnya.

Cerita dari Bang Nodi, sepanjang 2018, Bang Nodi mengikuti lomba kepenulisan, total Bang Nodi berpartisipasi 38 lomba. Dari jumlah tersebut, Bang Nodi harus 18 kali gigit jari. Mulai dari lomba blog, esai, hingga artikel. Bahkan, satu di antaranya Bang Nodi mesti rela tertipu penyelenggara esai abal-abal.

Bayangkan saja. Apabila Bang Nodi menyerah di percobaan 10 kali, maka tidak ada 20 kali kemenangan yang digenggamnya. Tentu saja ini juga berlaku untuk kita semua, bukan?

Oleh karena itu, rumus kemenangan itu sangat sederhana. Kalau ingin menang banyak, ya, ikut lomba lebih banyak. Kalau masih kalah, teruslah gigih mencoba pada kesempatan selanjutnya. Tanamkan pada pendirian kalian: Saya hanya butuh satu kesempatan lagi untuk menjadi pemenang. Mantapkan hal ini dalam-dalam!

Ingat, yang membedakan antara pecundang dan pemenang adalah cara mereka menyikapi kekalahan. Pemenang akan menganggap kekalahan sebagai pengalaman. Sedangkan pecundang memandang kekalahan sebagai alasan.

Tinggal pilih saja, kalian ingin dikenal sebagai pecundang atau pemenang?

2. Jujur dan Kritis pada Diri Sendiri
Kedua sikap ini harus kalian asah sembari kalian mengikuti ajang kepenulisan. Mustahil kalian keluar sebagai pemenang jika kalian masih terus berbohong dan bersikap lunak pada diri sendiri.

Jujur dalam konteks ini adalah penggalian ide dan penulisan karya kalian haruslah original. Sebelum menulis, kalian bisa mengambil data dari mana saja, dari pengalaman pribadi, atau bahkan cerita teman.

Ketika menulis, sesulit apapun, gunakan bahasa kalian sendiri. Jangan pernah membudayakan copy-paste barang sedikit pun dalam tulisan kalian. Jangan pernah! Ini namanya mencuri! Curang dan tidak bisa dimaafkan! 

Ketika penyelenggara lomba mengetahui ada kecurangan, maka kalian akan terdiskualifikasi secara langsung. Kalau sudah begitu, nama baik kalian akan tercoreng. Jangan harap kalian bisa ikut lomba selanjutnya.

Kritis, artinya kalian mampu menemukan kelemahan pada tulisan kalian sendiri. Sebagai contoh, lihat saja seberapa banyak kesalahan tik (typo) dalam tulisan kalian. Jika masih banyak kesalahan saat kalian mengirim karya kalian, artinya kalian tidak kritis terhadap diri sendiri.

Nah, untuk memperbaiki hal ini, biasakanlah kalian membaca kembali artikel kalian sebelum tayang. Untuk melihat kelemahan tulisan, kalian bisa meminta bantuan teman. Percayakan pada seseorang yang bisa memberikan kalian masukan agar kemampuan kalian semakin berkembang.

3. Jangan Malu untuk Belajar

Penulis yang baik adalah penulis yang mau membaca tulisan orang lain. Sama halnya dengan jawara lomba. Pastilah ia gemar belajar dari tulisan orang lain, terutama karya milik pemenang lomba.

Ada suatu pengalaman di mana Bang Nodi memulai ikut lomba kepenulisan. Tahun 2016, pertama kali Bang Nodi mengikuti lomba yang diadakan kantor tempat Ia bekerja di mana lomba itu dikhususkan untuk karyawannya saja. Karena hadiah yang ‘wah’, Bang Nodi tertarik untuk ikutan.

Hasilnya, bisa kalian bayangkan, bukan? Pertama kali Bang Nodi harus gigit jari karena artikelnya memang sekadarnya saja. Dipersiapkan dengan biasa-biasa saja tanpa memelajari terlebih dahulu artikel pemenang lomba edisi sebelumnya.

Namun, Bang Nodi menjadikannya sebuah pengalaman. Kalau mau menang, pelajari dulu teknik yang digunakan oleh pemenang. Jangan asal-asalan dan hanya mengharapkan keberuntungan. – Saya sendiri termasuk di dalamnya.

Hal terpenting sebelum ikut lomba adalah telitilah dahulu. Apakah sebelumnya penyelenggara lomba pernah mengadakan lomba yang sama? Kalau iya, cari tahu siapa pemenangnya. Pelajari teknik yang digunakan untuk merangkai kata. Dapatkan benang merah, kira-kira apa yang membuat artikelnya menjadi jawara.

Bila tidak, cobalah cari informasi lomba blog yang memiliki kesamaan hampir serupa. Misal, lomba review gadget, maka carilah hasil lomba serupa dan bacalah artikel pemenangnya. Jangan pernah malu dan malas belajar. Toh, ini juga perjuangan kalian sendiri, bukan?

Perihal Teknik: Kuasai Seni Merangkai Kata dan Mempercantik Tampilan Tulisan
Ketika kalian telah mengasah sikap seorang pemenang, sekarang kita ulas bagaimana teknis menulis yang menarik. Perlu diketahui, dalam lomba kepenulisan blog (Bukan SEO), artikel yang paling menarik dan sesuai dengan tujuan penyelenggara biasanya akan keluar sebagai juara. Apa saja yang harus diperhatikan?

1. Pilih Jenis Tulisan yang Tepat
Dalam mengategorikan jenis tulisan, Bang Nodi membagi menjadi lima jenis:
a. Ulasan atau review
b. Pengalaman atau opini
c. Analisis atau Tinjauan mendalam
d. Liputan atau features
e. Kombinasi dua atau lebih jenis tulisan di atas

Kalian yang ingin menjuarai lomba blog, maka kalian tidak bisa menyamaratakan semua jenis bentuk penulisan. Tentu saja tiap-tiap tulisan memiliki bentuk dan gaya yang berbeda. 

Yang perlu kalian lakukan adalah betul-betul mempelajarinya, syarat dan juga ketentuan lomba. Teliti kembali temanya, kira-kira dari lomba yang akan diikuti, jenis tulisan yang sesuai yang mana paling tepat?

Bang Nodi memberikan sebuah analogi. Misal, ketika kalian mengikuti lomba tentang review suatu produk, kalau memang memungkinkan, gunakanlah dulu produknya. Tulis kelebihan dan mengapa pembaca harus memakai produk tersebut. Kalau tidak memungkinkan, maka kalian bisa belajar dari website penyelenggara lomba atau berbagai berita yang pernah mengulas testimoni dari produk tersebut.

Beda halnya dengan analisis. Lomba blog seperti ini sering kali diselenggarakan oleh Lembaga nonprofit seperti pemerintah atau lembaga negara. Untuk lomba jenis ini, mau tidak mau kalian harus belajar mengenai topik yang diangkat. Kalau sudah paham, barulah menulis pelan-pelan.

Namun, hal paling sulit adalah ketika penyelenggara lomba tidak benar-benar spesifik menentukan jenis tulisan. Kalau sudah begini, kalian pasti kebingungan mau menggunakan teknik yang mana. Review tidak yakin, opini pun masih ragu-ragu.

Jangan buru-buru, ada triknya!

Dari pengalaman Bang Nodi, jika dia menjumpai hal seperti itu, maka Bang Nodi akan menggunakan teknik yang kelima. Bang Nodi akan mengombinasikan dua atau lebih teknik kepenulisan. 

Selebihnya, sebagai referensi, kalian bisa mengunjungi artikel bertajuk Memapas Senjang di Tapal Batas di blog Bang Nodi. Artikel tersebut keluar sebagai juara pertama lomba blog yang diselenggarakan KORINDO. Nah, dalam penyusunan artikel ini, Bang Nodi menggunakan kombinasi antara teknik analisis dan ulasan.

Oleh karena itu, pintar-pintarlah dalam menentukan jenis tulisan. Kuasai kelima-limanya, maka kalian akan berpeluang besar menjadi pemenang.

2. Gunakan Rumus Bagi Tiga
Setiap kali menulis untuk lomba kepenulisan, utamanya artikel, Bang Nodi selalu menggunakan teknik ini. Bagilah tulisan kalian dalam tiga bagian: Pendahuluan, isi, dan penutup. Dengan begitu, kalian akan menjadi lebih fokus dan terstruktur dalam menulis.

Caranya, ambil secarik kertas. Pada setiap bagian, gunakan poin-poin gagasan yang ingin kalian kembangkan. Misalnya, saat Bang Nodi ingin menulis artikel juara berjudul “Ayam Goreng Krezz ABB, Santapan Halal Penuntas Lapar”, maka Bang Nodi akan membuat kerangka tulisan:

PENDAHULUAN:
  1. Bangun Siang, kelaparan
  2. Lihat Instagram, menemukan menu ayam geprek
  3. Langsung meluncur ke Ayam Bersih Berkah (ABB)
ISI:
  1. Pengalaman bersantap di ABB
  2. Ulas keunggulannya, mulai dari menu makanan, lokasi, hingga suasana.
PENUTUP:
  1. ABB bisa juga dinikmati melalui pesan antar
  2. Ajak pembaca untuk mencoba ABB
Dengan membuat kerangka seperti di atas, fokus otak kita tidak akan lari ke mana-mana. Kita bisa menyelesaikan satu demi satu poin-poin kerangka yang telah dirangkai sebelumnya. Dengan demikian, isi keseluruhan artikel bisa lebih teratur.

Namun demikian, bisa saja tiba-tiba kita menemukan ide tambahan di tengah jalan. Kalau seperti itu, maka setidaknya kita bisa lebih mudah memilih tempat di mana ide tersebut akan diletakkan. Karena, sekali lagi, gagasan keseluruhan artikel sudah kita pikirkan terlebih dahulu.

Percayalah, ketika kalian membagi-bagi satu hal yang rumit ke dalam beberapa bagian yang lebih kecil, segalanya akan terasa jauh lebih mudah dan sederhana.

3. Paragraf Pembuka adalah Kunci Segalanya

Jujur saja, mayoritas orang akan menilai isi suatu karya dari sampulnya saja. Seperti warganet yang menilai seorang public figure hanya berdasarkan tayangan foto di akun Instagram semata.

Nah, tulisan juga demikian. Meskipun ending-nya keren habis-habisan, kalau paragraf pembukanya tidak menarik dan berantakan, sama saja itu menjadi kebohongan. Juri keburu malas membaca. Alhasil, artikel kalian akan dinilai pas-pasan.

Penting diterapkan, sajikan paragraf yang menarik pada tiga atau lima paragraph awal. Buatlah pembaca penasaran akan kelanjutan cerita. Gunakan diksi yang menarik dan berima. Pikir baik-baik apa yang akan kalian tuliskan pada paragraph pembuka. Sebab hal itu akan memengaruhi penilaian keseluruhan artikel.

Pengalaman Bang Nodi, selama menyusun paragraf awal, Bang Nodi selalu menghabiskan banyak waktu untuk bisa mendapatkan pembukaan yang pas dan sangat menarik untuk dibaca. Kalau masih kurang pas dan mengena di hati pembaca, maka Bang Nodi tidak akan melanjutkan sampai benar-benar sempurna.

Ambil contoh, dalam artikel Bang Nodi yang berjudul “Milenial Jangan Teledor: Ini Kiat Selamat Berkendara Sepeda Motor,” kalian akan menemukan paragraf pembuka yang menurut pendapat pribadi Bang Nodi, dan juga saya sebagai pembaca, paragraf itu digarap sangat apik. Dan tentunya artikel itu keluar sebagai juara pertama Kompetisi Blog Road Safety Jakarta 2019.

4.  Selalu Berikan yang Terbaik
Rumus menggapai segala cita-cita sebenarnya sederhana. Kalau ingin jadi yang terbaik, berikanlah yang terbaik. Jadi, jika kalian ingin memenangi lomba sebagai yang terbaik, maka usaha kalian harus totalitas yang terbaik juga.

Pertanyaannya, bagaimana cara menentukan apakah tulisan yang dibuat sudah merupakan tulisan yang terbaik? Cara paling mudah, tetapi sangat sulit dilakukan adalah jujur pada diri sendiri. 

Misalnya begini, ketika penyelenggara lomba mensyaratkan minimal 500 kata, kira-kira berapa jumlah kata yang akan kalian tulis? 550 atau 750 kata? Jawabannya, tergantung dengan tema yang kalian angkat.

Dari pengalaman Bang Nodi sendiri yang pernah diutarakan, Dia pernah menulis hingga lebih dari 2000 kata meskipun syarat minimal hanya 500 kata. Meskipun tidak banyak hal yang ingin dibahas, tetapi Bang Nodi ingin mengupasnya secara mendalam dan tuntas. Dan kebetulan, jenis lomba yang Bang Nodi ikuti kala itu adalah jenis review.

Tidak melulu jumlah kata, penempatan gambar yang pas dan kualitas gambar yang menarik juga menambah nilai plus sebagaimana yang telah saya bahas di awal paragraf atas. Apalagi jika tulisan kalian juga dilengkapi infografis dan video, asal penempatannya estetis, maka peluang menang akan semakin besar.

Seperti halnya tulisan Bang Nodi yang garapannya ciamik, tulisannya apik, diksinya menarik, ditambah infografis dan video yang menjadi pelengkap sehingga tampak lebih cantik. Segi tampilan juga mendukung. 

Saran Bang Nodi di kala diskusi, kerahkan segala kemampuan kalian untuk bisa membuat artikel semacam itu. Tentu saja lakukan jika kalian memang ingin menang. Jangan setengah-setengah dan sekali pun mengutip kalimat dari suatu berita tanpa mengolahnya lebih dulu.

5. Penuhi Seluruh Syarat dan Ketentuan Lomba
Telitilah kembali saat akan mengikuti suatu lomba kepenulisan apakah seluruh syarat dan ketentuan lomba telah kalian penuhi. Agar tidak lupa, Bang Nodi telah memberikan daftar umum yang disyaratkan penyelenggara lomba umum, sebagai berikut:

a. Jumlah minimal atau maksimal kata
b.  Kata Kunci atau keyword tertentu
c. Tautan atau backlink yang menyertai kata kunci
d. Keharusan like, follow, atau mention akun media sosial penyelenggara lomba
e. Penggunaan label atau tagar tertentu
f. Pemasangan banner  atau gambar tertentu
g. Media penayangan artikel (blog top level domain [LTD], gratis [blogspot atau wordpress], atau komunitas [kompasiana, indonesiana, detik])
h. Pendaftaran artikel yang disertakan dalam lomba (biasanya menggunakan formulir atau kirim via email)
i. Tenggat waktu (deadline) lomba

Hal ini masih dipandang remeh, tetapi bisa saja kalian gigit jari lantaran lupa memasukkan keyword atau backlink yang sudah ditentukan. Walaupun artikelnya apik, kalian tidak akan mungkin memenangi lomba dari laman kompasiana bilamana syarat penayangannya menggunakan blog TLD.

Oleh karena itu, sebelum menulis pastikan dahulu, apakah syaratnya mampu kalian penuhi? Kalau masih ada yang kurang jelas, segera tanyakan pada CP penyelenggara lomba. Lakukan jauh-jauh hari sehingga kalau ada apa-apa kalian masih bisa menyesuaikan diri.

Satu hal lagi, jangan paksakan ikut lomba yang syaratnya tidak bisa kalian penuhi! Ada baiknya ikut lomba yang lain yang sekiranya syaratnya mendukung untuk kalian ikuti. Selamat berjuang! Let’s rocks and survive!


You may like these posts

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>