-->

8 Teori Kecerdasan Menurut Ahli

Pada 1994, Thomas Amstrong dalam bukunya “Multiple Intelligence in the Classroom” berhasil mengidentifikasi 8 aspek atau tipe kecerdasan manusia...

Perkembangan Teori Kecerdasan

teori kecerdasan

Sejak dahulu banyak orang percaya bahwa “kesuksesan hidup” seseorang banyak ditentukan oleh kecerdasannya. Namun, apa itu kecerdasan dan bagaimana bentuk kecerdasan itu masih merupakan misteri hitam.

Meskipun demikian, para ahli telah berupaya mengembangkan berbagai kecerdasan. The Seven Liberal Art diyakini sebagai subyek yang dapat mengembangkan kecerdasan, tetapi hasilnya menunjukkan ternyata hanya segelintir orang yang mampu menguasai ketujuh subyek itu sehingga orang-orang yang cerdas waktu itu hanya merupakan devian saja.

Baca juga: Cara Membangun Ketahanan Mental Anak

Pada 1870, Francis Galton menelaah 5000 orang jenius di Inggris. Kesimpulannya adalah bahwa kecerdasan itu diturunkan atau bersifat herediter (fixed). 

Temuan tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi Alfred Binet yang pada tahun 1905 menyusun suatu tes kecerdasan (intelegensi) yang kemudian dikenal sebagai tes IQ (Intelligence Quotient).

Sejak itu, kecerdasan merupakan suatu domain kemampuan intelektua; (intellectual abilities) manusia yang berkenaan dengan kemampuannya untuk melakukan secara tepat, cepat dan cermat.

Kecerdasan sebagaimana digambarkan Galton (1870) dan Binet (1905) tentu memperkuat teori bahwa orang-orang jenius itu dipandang sebagai orang-orang devian, sebuah istilah yang digunakan menyebut kalangan orang cerdas saat itu. 

Kecerdasan intelektual (IQ) sebagai determinan “sukses hidup” kemudian banyak dipertanyakan orang. Yunani kuno dikenal sebagai negeri yang banyak melahirkan orang-orang jenius, ratusan bahkan ribuan filsuf lahir dari negeri ini.

Namun, selama ribuan tahun itu pula, dunia terdiam dan tidak bergerak. Baru pada Abad Pertengahan (Middle Age), di era Renaisans lahir dua orang Bacon. Kecerdasannya hanya selevel murid peringkat ketiga dari Pluto; 

Namun, kedua orang Bacon tersebut mampu mengubah dunia dan memberikan sumbangan masa depan bagi kemanusiaan.

Demikian pula dengan Thomas Alpha Edison, penyempurna listrik, juga akhirnya dapat memberikan sumbangan sangat besar kepada dunia dan kemanusiaan, padahal ia hanya seorang murid yang putus sekolah.

Moh. Surya (1979) dalam disertasinya di IKIP Bandung menemukan sejumlah murid yang under-achiever, yaitu ber-IQ tinggi tetapi tidak memiliki pretasi belajar yang baik bahkan rendah. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menyaksikan sejumlah orang yang sukses, tetapi ternyata IQ-nya hanya biasa-biasa saja. 

Oleh karena itu, mulai tahun 1950-an yang kemudian mencapai puncaknya pada 1980-an ditemukanlah jenis kecerdasan lain yaitu kecerdasan kreatif atau Creativity Quotient (CQ). Kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam menciptakan sesuatu yang baru. 

Pada CQ, konstruksi kecerdasannya berbeda. Jika pada IQ lebih mengandalkan kemampuan berpikir memusat (konvergen) dan mendalam (vertical), maka CQ justru lebih menekankan kemampuan berpikir menyebar (divergen) dan menyamping (lateral).

Dedi Supriadi (1989) barangkali merupakan orang pertama di Indonesia yang melakukan studi khusus tentang kreativitas dan orang-orang kreatif dalam disertasinya di IKIP Bandung. Sampai di sini, maka tabir atau misteri tentang kecerdasan sedikit-sedikit sudah mulai terjawab. 

Bahwasanya bisa saja seseorang yang ber-IQ tinggi gagal dalam hidupnya karena ternyata ia memiliki CQ yang rendah. Namun, kedua jenis kecerdasan ini belum mampu menjawab pokok “sukses hidup” manusia.

Baca juga: Apa itu Enosimania?

Pada 1994, Thomas Amstrong dalam bukunya “Multiple Intelligence in the Classroom” berhasil mengidentifikasi 8 aspek atau tipe kecerdasan manusia, di antaranya adalah:

1. Kecerdasan verbal (linguistic intelligence)

2. Kecerdasan visual-spasial (visual-spatial intelligence)

3. Kecerdasan logika-matematis (logico-mathematical intelligence)

4. Kecerdasan ritmik (musical intelligence)

5. Kecerdasan kinestetik-taktil (bodily intelligence)

6. Kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence)

7. Kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence)

8. Kecerdasan naturalis (natural intelligence)

Dengan teori Amstrong ini, maka kecerdasan seseorang makin berkembang sehingga dapat mematahkan mitos bahwa kecerdasan itu adalah sesuatu yang sudah built-in dari Sang Maha Pencipta atau diturunkan. Namun, justru dengan berkembangnya teori ini, maka kecerdasan itu adalah suatu hal yang dapat dipelajari.

Kecerdasan itu adalah suatu hal yang dapat dipelajari

Apakah kamu memendam cerita yang tidak bisa lagi kamu pendam? Kami menyediakan ruang #curhatonlinegratis untuk setiap masalah yang kamu alami. Yuk, kunjungi ruang curhat online - 🔗

 

Cerita menginspirasi teman-teman kami bisa kamu baca di halaman Daily Life

 

Kamu juga bisa berbagi pengalaman menarik dan menginspirasi yang pernah kamu alami dan kisahmu dapat berpotensi untuk dibaca oleh banyak orang. 


 

You may like these posts

  1. To insert a code use <i rel="pre">code_here</i>
  2. To insert a quote use <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. To insert a picture use <i rel="image">url_image_here</i>