Mengatasi Self Harm selama 17 Tahun dari Cerita Nata

Self Harm karena Sering Menyalahkan Diri Sendiri

Self harm, istilah baru ini saya baru mengenalnya saat mendapat sebuah cerita dari salah satu teman, namanya Natalia Maharani.

Istilah lain untuk menyebut hal ini adalah self injury. Sebuah gangguan mental dimana seseorang bisa saja membahayakan dirinya sendiri secara sadar.

Alasan yang sangat sering saya dengar adalah karena sebuah pelampiasan. Seperti yang sebelumnya pernah saya tulis, terkait seseorang yang bercerita tentang kebiasaannya crossdressing dan mengizinkan ceritanya untuk menjadi salah satu kisah kehidupan dalam blog ini.

Kisah hidup yang penuh lika-liku, yang memaksanya untuk dewasa sebelum waktunya. Berusaha tegar ketika orang lain selalu menyalahkan dirinya.

Lalu, apa dampaknya?

Sederhana, tetapi cukup berat untuk dihadapi sendiri dalam pikirannya: Tidak hentinya ia menyalahkan dirinya sendiri.

Saya juga berharap, apa yang telah dituliskannya mampu didengar oleh dunia. Setiap yang pernah mengalami akan tahu bagaimana rasanya tekanan mental yang Nata alami.

Cerita Pendek Nata tentang Self Harm yang dialaminya

Saya sering memanggilnya Nata, dari nama aslinya yang panjang. Itu untuk mempermudah.

Self Harm

Suaranya yang selama ini dipendamnya:

Aku hampir udah mati rasa, bahkan self-harm yang biasa aku lakuin saat kacau kaya gini udah males aku coba lagi, udah merasa ga guna buat gituan tapi terlanjur jadi kebutuhan.

Gimana mau percaya cinta itu nyata saat orang yang pertama kali ngajarin cinta bahkan ngebuang semuanya dengan perceraian.

Aku pernah ngalamin masa terburuk saat kelas 5SD. Masa terburuk berikutnya kelas 7-semester awal kelas 9 di SMP aku pikir semuanya bakal stop sampe disana. Nyatanya hari berikutnya masih berlanjut. Semuanya bahkan ga menimbulkan kesedihan lagi. Hatiku sakit tapi ga cukup sakit buat harus minta mati sama tuhan.

Aku ngalamin masa yang berat sejak kecil. Aku dengar pertengkaran, aku dengar bentakan kata kasar, atau yang paling parah salah satu dari orangtua ku dengan gampangnya pergi dari rumah buat pelarian. Aku? Meratapi semuanya. Aku biasa ditinggal, dititipkan, walau gak pernah ngerasain penganiayaan tapi tetep aja. Sakit mental, luka batin dan pikiran pikiran buat mati adalah hal dominan menyertai pertumbuhanku.

Aku dewasa sebelum waktunya. Dipaksa buat jadi lebih kuat, lebih pintar, dan lebih lainnya sebagai contoh.

Mereka gak sadar maksa buat kayak gitu buat mentalku gak sekuat anak anak lain.

Aku harus jadi contoh baik.

Aku harus belajar dan bekerja lebih keras.

Aku dipaksa buat senyum.

Aku bahkan gak diperbolehkan buat nangis.

Saat aku melakukan kesalahan semua jadi salah orangtuaku.

"kamu sama aja kaya ibumu"

"ga ada bedanya sama ayahmu"

Lalu itu jadi makanan sehariku karna aku bersikap seolah ga peduli menahan sakitnya dihatiku. Aku nangis. Nangis setiap malam sampe aku ga bisa nangis lagi setelahnya.

Aku ga benci orangtuaku. Mereka. Atau siapapun.

Aku benci diriku sendiri.

Aku benci saat pertama kalinya nyoba ngegores lenganku dengan kaca aku gak ngerasain apa apa selain kesepian.

Aku sendiri, aku mau cerita.

Aku jadikan diriku sendiri sebagai alasan kesalahan kesalahan orang lain.

Saat orang bilang ibuku atau ayahku yang salah, maka otakku berpikir aku yang kurang. Aku yang gak stabil, aku yang salah.

Aku menangis saat aku ingin menangis.

Bukan karena bertengkar dengan salah satu temanku, atau pacar yang selingkuh atau sahabat yang kurang berkenan.

Aku menangis setiap kali melukai orang lain karena terlalu sering menempatkan diriku dengan kesalahan.

Lagi dan lagi...

Sejahat apapun orangtuaku.
Mereka mungkin sedih kalo tahu aku serusak ini.
Rusak bukan dalam artian aku bukan wanita baik-baik. Rusak disini: Aku hampir gila. Aku sakit mental. Dan aku gatau gimana caranya berhenti dari sakit ini.

Aku pusing, aku mual, aku mau ngeluh lebih banyak.

Tapi aku harus bersyukur.

Bersyukur.

Lebih dari siapapun.

Karena aku. Aku harus bisa seperti kata mereka.

Aku harus bisa mengangkat derajat orangtuaku yang dihina atas salahku.

Aku harus lebih berani. Lebih kuat. Lebih pintar. Lebih baik lagi.

Gapapa harus dibenci.

Gapapa.

Aku akan baik baik aja. Selagi sakit itu masih terasa. Segores luka udah cukup hari ini.

Natalia Maharani

Aku harap.

Mental Disorder

Apa kamu baik-baik saja?
Apa kamu baik-baik saja?


Cara Menghadapi Self Harm

Ucapkan maaf dan terima kasih dahulu untuk dirimu. Satu-satunya yang saya mengerti untuk menghadapi beban mental adalah bagaimana kita bisa mencintai diri sendiri.

Memang berat, dan terkadang self harm adalah bentuk pelampiasan karena kamu tak tahu harus mengdau pada siapa, sedangkan rasa sakit dalam dirimu meronta-ronta. 

Saya rasa memang tidak salah, dibandingkan bunuh diri. Namun, saya juga tidak bisa membenarkannya.

Selfharm illustration

Self harm bisa saja dialihkan pada perhatian yang lain untuk mencegah kamu membahayakan diri sendiri.

Mungkin, dalam hal ini, saya akan pisahkan artikel pembahasannya dalam link lain sebab pembahasannya pasti akan mendalam.

Selain itu, untuk kamu, Nata, Self Harm jika kamu lakukan, menurut yang aku baca dan aku diskusikan dengan teman-teman yang tergabung dalam tim Omegarion, Self Harm bisa menyebabkan kamu mengalami adiksi (ketergantungan).

Mungkin, penjelasan mengenai Self Harm bisa kamu baca lebih lengkapnya dalam artikel yang akan kubuat setelah artikel ini diterbitkan.

Aku tahu, usia 18 - 20 tahun adalah masa rentang yang sangat luar biasa. Luar biasa dalam artian kejadian-kejadiannya selalu membuat kita bahkan hampir putus asa.

Namun, percayalah, akan ada pelangi yang indah setelah badai hujan yang mengerikan.

Percayalah, semua ini adalah jalan bagi kamu untuk menjadi seseorang yang lebih dewasa. Sebuah proses yang kamu perlukan untuk menjadikanmu siap menghadapi masa depan.

Juga sebuah proses untuk kamu belajar arti sebuah kebahagiaan.

Jika kamu, atau siapapun yang membaca artikel ini, jika kamu membutuhkan asupan motivasi, kamu bisa membaca buku dari saran saya: Intip Buku Jamil Azzaini, Menyemai Impian Sukses Mulia.

Untuk menghadapinya, kunci pertama adalah kamu bisa menerima kekurangan dan kelebihanmu apa adanya.

Omegarion
Omegarion Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena Kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

0 Response to "Mengatasi Self Harm selama 17 Tahun dari Cerita Nata"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel